Mendamaikan PB Djarum dan KPAI

  • Opini Langit Bara Lazuardi

CARA pandang hitam-putih, penilaian dengan oposisi biner, tampaknya belum terkikis dari masyarakat kita. Cara pandang itu membuat objektivitas kita menjadi beku, dan rasionalitas terkukung oleh prasangka. Bahayanya kemudian adalah jika cara pandang itu menjadi cara untuk menilai atau mengambil kebijakan sebuah institusi. Yang terjadi kemudian adalah ''nalar yang seakan benar'', ''yang seolah pas''. Padahal, bisa berlaku sebaliknya.

Itulah yang kini kita lihat dari penilaian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atas penyelenggaraan audisi umum oleh PB Djarum.  Audisi yang telah berlangsung sejak 2006 itu, dan telah melahirkan banyak pebulutangkis andal, dinilai mengandung unsur eksploitasi anak oleh industri rokok. Indikasinya, kata KPAI, para peserta memakai kaus bertuliskan ''Djarum Badminton Club''. Menurut mereka, anak-anak telah diikenalkan produk rokok sejak dini.

KPAI yang sempat bertemu PB Djarum di akhir 2018 menyatakan nama audisi tersebut harus berubah dan tak lagi mengandung unsur ''Djarum'' di dalamnya. Sesuatu yang aneh.  KPAI memakai UU 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak maupun PP No 109 Tahun 2012 yang melarang perusahaan rokok dalam menyelenggarakan kegiatan  menampilkan logo, merek, atau brand image produk tembakau. Dan, meski PB Djarum sempat menegaskan bahwa PB Djarum dan Djarum yang merupakan produsen rokok adalah dua identitas berbeda, pun begitu halnya dengan Djarum Foundation yang memayungi audisi ini, KPAI bergeming. 

Tak ada kesepahaman, dua pihak masing-masing bersikukuh, dan akhirnya, mulailah ''tragedi'' dari cara pandang biner ini: PB Djarum memutuskan untuk menghentikan proses audisi umum itu sejak tahun depan. 2019 ini akan menjadi audisi terakhir yang mereka hela.

Jagad perbulutangkisan pun geger.  Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi menilai tudingan KPI terhadap acara audisi umum PB Djarum tidak tepat.  "Mestinya jalan terus karena tak ada unsur eksploitasi anak. Bahkan, audisi Djarum sudah melahirkan juara-juara dunia. Lagipula olahraga itu butuh dukungan sponsor. Ayo, lanjutkan," tulis Imam di akun Instagramnya.

Salah satu atlet binaan PB Djarum, Melati Daeva Oktavianti, menyesali penilaian KPAI itu. Dia meyakini tak ada eksploitasi apalagi sampai ''jualan rokok''. Dia bahkan menegaskan, jika atlet bahkan merokok, akan segera dikeluarkan dari pusat pelatihan. Soal kaos? Dia dengan jelas mengatakan, siapa sih yang tidak kepengen memakai kaos PD Djarum? Pengakuan yang sangat logis dan tepat.

KPAI seharusnya tahu, bahwa bulu tangkis adalah olahraga kebanggaan kita. Wajah Indonesia dalam olahraga telah lama hanya tergantung pada bulu tangkis. Dan, untuk meraih itu, bukan hal yang mudah dan murah. Butuh biaya dan pembinaan, juga pencarian bakat, yang terus menerus, simultan, dengan pola yang terukur dan jelas. Dan salah satu penelur bakat yang mendunia, dan membanggakan Indonesia itu adalah dari PB Djarum. 

Melalui audisi umum inilah banyak anak-anak Indonesia yang bermimpi untuk menjadi atlet dan meraih kehidupan yang lebih baik, jadi terfasilitasi. Di PB Djarum, mereka bukan hanya dibina, diarahkan, tapi juga dibeasiswai sekolahnya, dan ditanggung biaya kehidupannya. PB Djarum hanya meminta mereka berprestasi.

Apakah Djarum sebagai pabrik rokok dan PB Djarum entitas yang berbeda? Tentu saja, semua bisa melihat hal itu. Terlalu banyak kiprah Djarum Foundation untuk negeri ini, melalui beasiswa, bakti budaya atau lingkungan, sampai olahraga. Dengan bahasa sederhana, Djarum Foundation adalah saluran PT Djarum untuk berbakti, untuk mengembalikan ''keuntungan'' mereka kepada bangsa ini.

Tentu ada korelasi di antara kedua entitas itu, tapi  dapat kita lihat sebagai cara ''branding'' semata. Dan dalam hal ini, KPAI harus melihat lebih jeli, teliti, dan tidak hitam-putih. Bahwa banyak kaitan, banyak unsur, banyak tentakel yang harus mereka lihat dalam hubungan yang dialogis antara PR Djarum dan Djarum Foundation. Kegagalan melihat itu, dan meletakkan apapun aktivitas Djarum Foundation --bakti olah raga dan bakti budaya di dalamnya-- semata sebaga promo dan usaha selling adalah kenaifan semata, cara pandang yang tidak dewasa, dan gagal melihat realitas.

Secara kasat mata kita dapat melihat bahwa dengan audisi umum PB Djarum itu lebih banyak anak-anak yang termuliakan hidupnya, daripada tereksploitasi, hanya karena mereka memakai kaus itu.**

------------------------

Penulis : lbl
Editor   : edt