Tamborae - LeSPI Gelar Diskusi 'Post-Truth' dan 'Buzzer' di Salatiga


SEMARANG, WAWASANCO - Dilatari keprihatinan sekaligus kepedulian atas fenomena fakenews dan buzzer yang makin mendominasi perilaku komunikasi dan interaksi masyarakat, The Tamborae Institute berkolaborasi dengan Lembaga Studi Pers & Informasi (LeSPI) menggelar diskusi panel “Menelisik Fenomena Buzzer dan Fakenews di Post-truth Era.” Kegiatan tersebut akan digelar di Kayu Arum Resort, Salatiga,  Sabtu, 2 Nopember 2019.

''Fakenews dan buzzer membuat media mainstream jadi makin tertatih-tatih dalam menjalankan tugas sebagai the fourth pillar of democracy. Bahkan,  dalam beberapa kasus, jurnalis yang bekerja dengan tetap menjunjung tinggi kaidah-kaidah etika profesinya justru banyak yang dihujat, dibully atau bahkan dikriminalisasi ketika berbeda dari buzzer,'' terang Direktur The Tamborae Institute Wisnu T Hanggoro.

Wisnu menambahkan, saat ini jurnalisme mengalami masa senjakala. Sejumlah perusahaan media raksasa makin tertatih-tatih, sebagian bahkan harus mengalami kebangkrutan atau mem-PHK sejumlah besar jurnalisnya.

Perubahan drastis yang dialami media mainstream tersebut bukannya tanpa sebab. Banyak pihak menuding perkembangan teknologi digital sebagai salah satu biang kerok. Teknologi tersebut secara tak terelakkan telah mengubah perilaku masyarakat yang pada mulanya menjadi pembeli produk jurnalisme menjadi penikmat tanpa membeli.

Masyarakat menjadi enggan mengeluarkan uang secara langsung untuk mendapatkan informasi. Celakanya, sebagian bahkan menjadikan diri sebagai “jurnalis” melalui media sosial mereka. Sebagian lainnya menampilkan diri sebagai agen-agen pendengung (buzzer) informasi apapun yang mereka produksi sendiri ataupun mereka peroleh.

''Karya-karya jurnalis professional memang tidak selamanya benar. Namun mereka selalu mengupayakan kebenaran objektif berdasarkan fakta-fakta yang mereka temukan di lapangan. Celakanya, kebenaran faktual yang mereka temukan dan suarakan di media massa sering dianggap ancaman oleh sekelompok orang. Dengan kekuatan massa pem-bully, mereka yang terdampak karya jurnalis tersebut melakukan aneka tindakan represif, termasuk dengan menyebarkan berita palsu (fakenews) bersama gerakan para buzzer,'' tambahnya.

Akankah situasi post-truth tersebut terus hidup dan berkembang di masyarakat? Atau sebaliknya, akankah terjadi titik-balik yang membuat masyarakat jenuh terhadap era post-truth dan menjadikan kebenaran faktual objektif sebagai nilai yang patut dijunjung tinggi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidaklah mudah untuk dijawab secara individual. Terlebih oleh mereka yang sudah terlanjur terbuai dan menjadi penikmat era post-truth. Namun, para pembicara dalam diskusi yang dipandu Dr. Pamerdi Giri Wiloso – dosen pasca sarjana fakultas interdisipliner UKSW – ini akan mengupas wajah era post-truth, serta  fenomena fakenews dan gerakan para buzzer. Para pembicara tersebut adalah Dr. Rini Darmastuti (Pengajar di jurusan Kehumasan FTI UKSW Salatiga), Aulia Muhammad (Pegiat LeSPI dan Pemred Harian Wawasan) serta Wisnu T Hanggoro (Direktur The Tamborae Institute).

Diskusi ini mengundang secara khusus para akademisi, tokoh masyarakat, rohaniwan, politisi, aktivis LSM, mahasiswa dan para awam terdidik (educated lay-person).

       Warga masyarakat umum yang tertarik mengikuti diskusi ini dapat menghubungi Farida K Nurhasanah (0811277042) atau Titut Purwati (081804005003)

Penulis : arr
Editor   : edt