Manajemen RSUD Kajen Bantah Dugaan Malpraktik

292

Pihak manejemen RSUD Kajen memberikan keterangan terkait dugaan malpraktik di rumah sakit itu. Foto: Hadi Waluyo.

KAJEN - Pihak manajemen RSUD Kajen, Kabupaten Pekalongan membantah adanya dugaan malpraktik dalam penanganan medis pasien bayi saat dirawat di rumah sakit milik Pemkab Pekalongan ini. Sekat hidung bayi berusia enam bulan bernama Adiyatma Sekan Altaya, putra pertama pasangan Ubaidilah (23) dan Karimah (18), warga Madukaran RT 1 RW 3 Kelurahan Kedungwuni Barat, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan hilang usai dirawat di RSUD Kajen, sehingga bayi tersebut mengalami cacat pada bagian hidungnya. 

Bagian Pelayanan Medik RSUD Kajen, dr Imam Prasetyo, dalam keterangan pers, Jumat (13/10), menyatakan, kasus bayi Ny Karimah di Madukaran bukan kasus malpraktik. Menurutnya, hal itu akibat risiko medis atau komplikasi medis yang ditimbulkan dari pemasangan suatu alat. "Jadi untuk pemasangan sipet sendiri bertujuan untuk life saving atau penyelamatan bayi. Kondisi saat itu bayi berumur 32 minggu (prematur), dengan berat badan kurang dari 1.500. Kalau tidak dipasang sipet kemungkinan bisa meninggal. Salah satu tujuan penyelamatan bayi dengan pemasangan sipet," terang dia.

Menurutnya, terjadinya erosi di hidung bayi tersebut karena salah satu komplikasi dari pemasangan sipet. Disampaikan, untuk erosi sendiri sudah diketahui saat dirawat di rumah sakit, dan sudah dilakukan perawatan di antaranya dengan pemberian salep yang dikonsultasikan oleh dokter anaknya. "Penangangan medisnya sudah sesuai dengan SOP," katanya.

Dijelaskan, secara teoretis, sekitar dua persen pasien bisa mengalami erosi atau hilangnya setum hidung akibat pemasangan sipet terlalu lama. Menurutnya, cacat itu bisa direkonstruksi atau dipulihkan dengan bedah plastik. Dikatakan, pemasangan sipet pada bayi itu dilakukan untuk menyelamatkan nyawa bayi tersebut. Menurutnya, pemasangan sipet dilakukan hingga bayi tersebut bisa bernafas dengan spontan. 

"Jika sipet dilepas, bayi bisa meninggal. Kondisi sipet bayi juga dikontrol setiap hari. Baru pada hari ke15, ada tanda-tanda perlukaan. Pemasangan sipet sekitar 25 hari. Kita sudah beri tindakan salep dan perawatannya. Bukan tidak diketahui. Ada erosi, kita sudah melakukan perawatan. Sipet dilepas atau tidak, dari dokter anaknya. Yang utama adalah penyelamatan nyawanya, karena bayi saat itu berisiko tinggi. Dan Alhamdulillah sekarang bayi selamat dan sehat. Memang ada cacat, namun tidak menganggu fungsi pernafasannya. Secara fungsi tidak apa-apa, secara kosmetik saja. Jika dipirsani kurang sae," terang dia.

Menurutnya, pihak rumah sakit tidak melepas begitu saja pasien tersebut. Rumah sakit beritikad baik dengan siap mendampingi pasien untuk dirujuk ke RS Karyadi agar dilakukan pemulihan atau direkonstruksi setum hidungnya. "Hari ini rencananya ada pertemuan dengan pihak keluarga. Rencananya jam 09.00 WIB tadi, tapi dari pihak keluarga pasien tidak hadir. Kami ingin ini diselesaikan secara kekeluargaan. Jika sudah sepakat, kami siap mendampingi di RS Karyadi. Jika di sana siap, operasi sehari selesai," imbuhnya

 

 

Penulis : haw
Editor   : wied