Semarang, Wawasan.co — Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN), tercatat sebanyak 195.081 orang di Jawa Tengah terpapar dan memerlukan layanan rehabilitasi. Namun demikian, kapasitas layanan rehabilitasi yang tersedia saat ini masih terbatas dan belum sebanding dengan jumlah kebutuhan penanganan.
Kondisi tersebut menjadi latar belakang audiensi dan koordinasi strategis yang dilakukan Kepala BNNP Jateng dengan jajaran manajemen RSJD dr. Amino Gondohutomo di Kota Semarang, Selasa (4/3). Pertemuan ini bertujuan memperkuat kolaborasi dalam peningkatan kapasitas dan kualitas layanan rehabilitasi narkotika di Jawa Tengah.
Kepala BNNP Jawa Tengah, Tonton Rasyid, S.H., M.H., menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari silaturahmi sebagai pejabat baru sekaligus langkah awal memperkuat sinergi lintas sektor.
“Data prevalensi menunjukkan adanya peningkatan penyalahgunaan narkoba. Di Jawa Tengah, jumlahnya mencapai 195.081 orang. Sementara kemampuan layanan rehabilitasi, baik rawat jalan maupun rawat inap, saat ini baru mampu menangani sekitar 600 orang per tahun. Ini tentu menjadi tantangan besar yang harus kita jawab bersama,” ujarnya.
Beliau juga menyoroti bahwa pola peredaran gelap narkoba kini semakin terbuka dan masif, dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial sebagai sarana promosi, komunikasi, hingga transaksi.
“Peredaran narkoba tidak lagi terbatas pada jaringan konvensional, melainkan telah masuk ke ruang-ruang privat masyarakat melalui gawai dan internet, sehingga akses terhadap narkoba menjadi semakin mudah dan cepat. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena berdampak langsung pada kalangan generasi muda yang merupakan pengguna aktif media sosial. Remaja dan pelajar menjadi kelompok rentan, baik sebagai sasaran pasar maupun pihak yang dimanfaatkan sebagai perantara dengan iming-iming keuntungan instan,”terangnya.
BNNP Jawa Tengah berharap RSJD dr. Amino Gondohutomo dapat meningkatkan jumlah tempat tidur (bed) rehabilitasi rawat inap sehingga dapat menjadi salah satu rujukan utama dalam layanan rehabilitasi narkotika. “Dengan keterbatasan kapasitas yang ada saat ini, penguatan kolaborasi menjadi kunci. Kami berharap ke depan tersedia ruang rehabilitasi yang lebih memadai untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Direktur Utama RSJD dr. Amino Gondohutomo, Alex Yusran, dr., M.Kes., menyambut baik kunjungan tersebut dan menegaskan komitmen rumah sakit dalam mendukung upaya rehabilitasi narkotika.
“Selamat datang di RSJD dr. Amino Gondohutomo. Kami berharap kerja sama ini semakin serasi dan berkelanjutan. Salah satu program unggulan kami saat ini adalah penanganan NAPZA. Kami siap memberikan pelayanan yang lebih baik dan komprehensif,” ungkapnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa RSJD dr. Amino Gondohutomo juga merupakan salah satu Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) di Kota Semarang.
“Dengan dukungan dan koordinasi yang lebih intensif bersama BNNP Jawa Tengah, kami siap untuk mengoptimalkan layanan rehabilitasi sesuai kebutuhan Masyarakat,”tegasnya.
Selain itu, RSJD Amino juga menyatakan kesiapan untuk mendukung deklarasi bersama pada momentum Hari Anti Narkotika Nasional sebagai wujud komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan pelayanan bagi penyalahguna narkotika.
Dengan pertemuan ini menegaskan bahwa persoalan penyalahgunaan narkoba tidak dapat ditangani secara parsial. Dengan jumlah penyalahguna yang mencapai lebih dari 195 ribu orang dan kapasitas rehabilitasi yang masih terbatas, diperlukan langkah strategis melalui penguatan kapasitas layanan, peningkatan jumlah fasilitas rawat inap, serta kolaborasi berkelanjutan antar pemangku kepentingan.
Sinergi antara BNNP Jawa Tengah dan RSJD dr. Amino Gondohutomo diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperluas akses rehabilitasi, meningkatkan kualitas layanan, serta memberikan harapan pemulihan yang lebih luas bagi masyarakat Jawa Tengah.
Penulis : holy
Editor : Daniel