SEMARANG- Gubernur Jawa Tengah harus memiliki keteladanan, lurus, visioner, prorakyat, dan mampu menyejahterakan rakyat. Dan, dalam kontestasi pemilihan gubernur tahun depan, yang penting gubernur harus mampu menjaga budaya dan tetap dari kalangan Pendawa, yang berarti orang-orang baik.
Itulah catatan dari Focus Group Discussion Mencari Kriteria Pemimpin Jateng yang diselenggarakan harian Suara Merdeka di Menara Suara Merdeka, Jalan Pandanaran Semarang, Senin (16/10). Diskusi yang dimoderatori redaktur senior Sasongko Tedjo itu dihadiri bakal calon gubernur seperti Sudirman Said, Ferry Yuliantono, Musthofa dan juga bakal calon wagub Sigit Widyo Nindito dan Heru Sudjatmoko yang juga petahana. Bakal cagub Musthofa hadir terlambat karena harus menjalani ujian doktornya di Undip.
Lurus dan Teladan
Sudirman Said yang diberi kesempatan pertama untuk bicara mengatakan, pilkada itu perlombaaan kebaikan. Dia menuturkan, awal Bung Karno menjadi presiden, penduduk Indonesia 70 juta dan hanya 7 persen yang melek huruf. “Tetapi kita punya pemimpin yang luar biasa. Dalam keadaan rakyat miskin dan lebih 90 persen buta huruf, kita butuh pemimpin yang mampu menggerakkan,” ujar mantan Menteri ESDM ini.
Bung Karno, katanya, tidak mau menunggu semuanya baik dulu, karena dengan menunggu berarti Indonesia tidak segera merdeka. “Sedangkan sekarang, sudah banyak yang melek huruf tetapi masih ada pemimpin yang membohongi publik. Mereka datang dengan harapan rakyat memilihnya, tetapi banyak sekali dari yang terpilih oleh rakyat itu ternyata dijerat KPK,” kata lelaki asal Brebes ini.
Sekarang ini, katanya, keadaan sudah semakin makmur, tetapi banyak pemimpin yang belum menjadi pemimpin yang baik. “Maka saya merasa diri sebagai orang baik masuk politik untuk memperbaiki keadaan. Orang baik harus percaya diri,” katanya.
Menurut Sudirman, mengelola pemerintahan dibutuhkan orang yang lurus dan punya keteladanan. “Soal perencanaan program, penganggaran itu bisa di-outsourcing-kan. Tetapi keteladanan dan leadership tidak bisa di-outsourcing-kan,” ujar Sudirman.
Bacagub lainnya, Ferry Yuliantono menyoroti, selama ini umumnya pemerintah atau pemimpin pemerintahan masih banyak mengandalkan APBN/APBD untuk menjalankan pemerintahannya. “Itu mainstream. Ke depan, harus dipikirkan perlunya sumber non-APBN/APBD untuk membangun dan menyejahterakan rakyat,” katanya.
Maka, kemudian Ferry menyatakan perlu adanya “monetasi pedesaan”. Caranya, menjadikan kalangan perbankan untuk “mengembalikan” uang para deposan ke daerah/desa. Dengan demikian perputaran uang di daerah/desa meningkat dan perekonomian tumbuh. “Selain itu, rakyat membutuhkan pemimpin yang berpihak pada rakyat,” tambah Ferry.
Pernyataan Ferry ini ditepis oleh bacagub Musthofa, yang menyatakan bahwa Kabupaten Kudus sudah melakukan itu. “Kami membangun dan menyejahterakan rakyat tidak mengandalkan APBD. Kami banyak menggunakan CSR perusahaan-perusahaan,” ujar Bupati Kudus ini.
Sementara Sigit Widyo Nindito menyatakan, pemimpon itu harus visioner. Sumber daya alam yang tersedia di Jateng ini melimpah. Dengan penanganan yang baik dan visioner, misalnya pengembangan pariwisata, maka potensi sumber daya alam itu akan mampu menyejahterakan rakyat. “Yang perlu adalan, politik anggaran yang prorakyat bukan berorientasi proyek,” kata Wali Kota Magelang ini.
Sedangkan Musthofa menyatakan bila dia dipercaya menjadi Gubernur Jateng, maka apa yang baik di Kudus akan dibawa dan kembangkan. Misalnya mengenai UMKM, pembangunan yang tidak hanya mengandalan APBD. “Kesejahteraan rakyat harus menjadi kunci,” katanya.
Heru Sudjatmoko, petahana yang diberi kesempatan terakhir mengingatkan, bahwa masalah budaya itu penting menjadi perhatian. “Jateng memang adhem ayem, rakyat merasa nyaman itu karena budaya yang demikian. Kita relative lebih tenang dan nyaman disbanding provinsi lain di Jawa,” katanya.
Ditandaskan, kekayaan Jateng tak hanya sumber daya alam dan perekonomian, tetapi juga budaya. “Kalau amsyarakat Jateng adhem ayem itu harus dihargai. Hidup tak hanya dengan harta dan uang saja, tetapi rasa tentrem itu sangat penting,” ujarnya.
Heru juga menjawab apa yang disampaikan Ketua DPRD Rukma Setya Budi yang menyebut pemimpin Jawa Tengah itu jangan kemlinthi. Semuanya paham, bahwa yang disebut kemlinthi itu adalah gubernur sekarang, Ganjar Pranowo. “Kepemimpinan itu juga soal gaya. Gaya boleh saja berbeda, tetapi yang penting masih Pendawa. Masih orang baik, yang penting substansi. Kita tentu tidak akan memilih pemimpin yang Kurawa,” ujar Wagub Jateng ini seakan mengklarifikasi soal istilah kemlinthi.
16 % Ingin yang Baru
Dalam kesempatan itu pengamat politik M Yulianto menyatakan, survei yang dilakukannya menunjukkan, ada 16 persen warga Jateng yang ingin gubernur baru. Dia mengingatkan agar partai bisa memahami keinginan rakyat. “Jangan sampai ada disparitas ekspektasi antara partai dan masyarakat. Maka partai harus mampu memilih calon yang baik dan mampu memasarkannya kepada pemilih. Jangan sampai ada orang baik tetapi tidak bisa dipasarkan atau sebaliknya,” kata pengamat politik Undip ini.
Juga dia mengingatkan, isu yang perlu diperhatikan di Jateng adalah meningkatnya kenakalan remaja. Ini juga perlu mendapatkan perhatian. “Sementara efek pilkada Jakarta tidak berpengaruh. Hanya saja 34 persen mempertimbangkan keyakinan calon, tetapi para calon sama, jadi tidak mungkin bisa digoreng-goreng,” ujarnya.
Pengamat politik dari Unika Soegijapranata, Andreas Pandiangan mengingatkan, partai-partai agar membumikan pilgub ini. Gubernur itu beda dari bupati atau wali kota, karena dia bukan semata kepala daerah, tetapi juga wakil pusat di daerah. “Jadi gubernur itu pemimpin, manajer, bukan pekerja. Para petinggi parpol agar menyadari hal ini,” ujarnya.
Hadir juga tokoh APINDO Jateng, Frans Kongi, yang mengharapkan gubernur mendatang sanggup membuat bank tanah untuk memberikan kemudahaan dalam investasi. Hal ini mengingat, kebutuhan investasi atas lahan. “Yang sering terjadi investor siap, tiba-tiba harga tanah naik. Maka pemerintah diharakan bisa membuat kawasan industry yang dikelola orang yang bsia dipercaya, bukan orang yang mau cari untung saja,” ujar Frans Kongi.
Acara ini juga dihadiri para pengurus partai seperti PDIP, Gerindra, Nasdem, PPP, PKB. Tampak pula penggiat perempuan Agnes Widanti, beberapa pengusaha, dan undangan lainnya.
Penulis :
Editor :