Semarang, Wawasan.co - Jari mungil Anjani Rengganis (6) tampak berbalur bubuk magnesium. Dengan penuh fokus, ia menggenggam poin di area bouldering Wall Climbing Kampus 2 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Gunungpati, Kota Semarang.
Di tengah suasana Ramadan, bocah kelas yang masih duduk di Taman Kanak-kanak tersebut memilih mengisi waktu ngabuburit dengan latihan panjat dinding. Meski mengaku lelah karena berpuasa, semangatnya tak luntur.
Bersama sang adik, Kerinci Maharani (5), Anjani menjadi peserta termuda dalam kegiatan “Ngabuburit Climbing,” yang digelar Mahasiswa Pecinta Alam Mahapawha Unwahas.
“Capek, nanti kan buka,” ucap Anjani, Rabu 4 Maret 2026 sore.
Ia mengaku berpuasa setengah hari, namun tetap kuat memanjat. “Suka, dan sudah lama latihan disini," jawabnya singkat.
Kegiatan ngabuburit panjat dinding ini diikuti sekitar 30 peserta. Mayoritas berasal dari berbagai organisasi mahasiswa pecinta alam (Mapala) di Kota Semarang. Selain itu, ada pula peserta dari Fakultas Kedokteran dan masyarakat umum.
Salah satu peserta, Dina Rahayu dari Mapala Institut Teknologi dan Statistika Bisnis Muhammadiyah Semarang, mengaku merasakan sensasi berbeda memanjat saat puasa.
“Seru banget. Di atas itu takut tapi seru. Ini kedua kalinya manjat. Memang belum sampai top, baru setengah. Tadi dikit lagi sampai atas, tapi kuat kok walau puasa,” ungkapnya.
Baginya, rasa takut justru menjadi tantangan yang membuat pengalaman panjat dinding semakin berkesan.
Kehadiran peserta anak-anak menjadi daya tarik tersendiri. Selain Anjani dan Kerinci yang berusia 5–6 tahun, terdapat pula satu peserta berusia 12 tahun.
Ketua penyelenggara Ngabuburit Climbing Mahapawha, Ainun Khotib, menjelaskan kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antar-Mapala sekaligus menghadirkan aktivitas positif selama Ramadan.
“Tujuan utama kami lebih ke silaturahmi antar-mapala. Selain itu supaya puasanya enggak cuma tidur. Jadi sore hari kita isi dengan olahraga panjat sambil menunggu azan Maghrib, lalu buka bersama,” ujar Ainun.
Dari total peserta, sekitar 20 orang berasal dari Mapala, dua dari Fakultas Kedokteran, sisanya peserta umum.
Menurut Ainun, berolahraga saat puasa tetap aman selama dilakukan dengan santai dan tanpa target berlebihan.
“Secara kondisi sebenarnya sama saja seperti hari biasa. Bedanya energi kita lebih sedikit karena asupan makan berkurang. Tapi itu tidak mengurangi semangat. Kalau capek ya istirahat. Tidak ada target khusus,” jelasnya.
Ia bahkan menyebut olahraga sore hari saat puasa bisa membantu pembakaran kalori lebih optimal karena dilakukan menjelang waktu berbuka.
Ainun menegaskan, latihan bagi anak-anak selama Ramadan tidak difokuskan pada program fisik berat seperti tes endurance atau latihan intensif sebagaimana hari biasa.
“Untuk anak-anak lebih ke permainan dan fun climbing. Kami tidak masukkan ke program berat. Biar mereka tetap asyik, enggak jenuh, dan tetap bisa bergerak meski puasa,” katanya.
Pendekatan ini dinilai penting agar anak-anak tetap menikmati olahraga tanpa merasa terbebani kondisi puasa.
Menurut Ainun, perkembangan panjat tebing di Kota Semarang cukup baik. Tersedianya pemusatan latihan dan pengelolaan yang terstruktur membuat pembinaan atlet berjalan konsisten.
“Di Semarang sudah ada pemusatan latihan. Latihannya juga terjadwal dan ada pelatihnya. Jadi perkembangan panjat tebing di sini cukup baik dan terjaga,” ujarnya.
Kegiatan Ngabuburit Climbing sendiri menjadi agenda perdana yang diharapkan bisa rutin digelar setiap Ramadan.
“Insyaallah akan kami adakan setiap tahun. Supaya Ramadan tetap produktif dan sehat,” tutupnya.
Penulis : holy
Editor : Daniel