Dua Dimensi Penting Ibadah Membentuk Kepribadian Pemimpin


PURWOKERTO, WAWASANCO-Bagi kebanyakan orang, puasa dipahami sebagai pemenuhan kewajiban atas ketetapan Allah. Puasa hanya sebatas tidak makan, tidak minum, dan menghindari hal-hal yang membatalkannya, dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Berbeda dengan Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Dr Anjar Nugroho bahwa apapun ibadah yang telah Allah syariatkan kepada umatnya, maka manfaatnya akan kembali pada hambanya.

“Allah tidak sedikitpun mengambil keuntungan dari apa yang diperintahkan kepada manusia. Pelajaran penting yang telah Allah berikan kepada kita, dibagi menjadi dua manfaat atau dua dimensi penting dari ibadah, termasuk di bulan Ramadhan,”

Pertama, ibadah memiliki dimensi sepiritual, seperti sholat. Dimana saat sholat menghadap Allah SWT, berkomunikasi langsung dengan Allah, dalamrangka mengingat apa yang telah Allah berikan kepada kita. Mengingat seluruh karunia yang telah diberikan.

“Sehingga dimanapun berada, ingat kepada Allah, tidak hanya saat sholat saja. Itulah dimensi spiritual,”

Kedua, dimensi social. Sesungguhnya sholat itu bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ini dimensi sosial dari ibadah sholat. “Sholat tidak hanya hubungan vertical kepada Allah, tetapi ketika sudah mengingat Allah, yang muncul adalah kesalehan social. Bagaimana perilaku kita, bagaimana hubungan kita dengan sesama. Itu menunjukan bahwa kita ini orang-orang yang bertakwa, beriman yang sesungguhnya,” jelasnya.

Dua dimensi tersebut, lanjut rektor,  tidak hanya berlaku untuk ibadah sholat, tetapi itu berlaku untuk seluruh ibadah yang telah Allah syariatkan kepada kita. Termasuk ibadah-ibadah yang ada dibulan ramadhan.

“Kita disyariatkan untuk berpuasa. Dengan berpuasa kita diminta untuk menahan diri. Dan kita pasrahkan diri kita kepada Allah, jadi apa yang kita lakukan bukan keinginan pirbadi kita, melainkan untuk menjalankan amanah dari Allah SWT,” jelasnya.

Itu dimensi spiritual dari ibadah puasa. Lalu dimensi sosialnya apa? Sangat banyak sekali dalam ibadah puasa itu. Bagaimana kita bisa menahan makan, menahan hawa nafsu. Karena ketika kita bisa makan hari ini, banyak orang yang belum tentu bisa makan dihari itu juga, maka inilah dimanfaatkan untuk mengasah kepekaan social kita.

“Pelajaran-pelajarn penting yang bisa kita peroleh, baik dalamibadah ramadhan, maupun dalam ibadah lainnya itu akan membentuk kepribadian seorang muslim, yang mutakin. Mutakin itu dia selalu terikat hatinya kepada Allah,” katanya.

Dua dimensi tersebut jika terbentuk dalam diri seorang muslim, maka dia akan menjadi manusia yang utuh, manusia yang sejati. Dan aktualisasi dari manusia yang sejati itu bisa menjadi sumber kebaikan bersama. Dan sumber kebaikan bersama itulah, para pemimpin yang didambakan oleh umatnya. Ketika mereka menjadi sumber kebaikan, maka dia adalah seorang pemimpin. Pemimpin untuk masyarakatnya, pemimpin untuk keluarganya, pemimpin di Unit-unti didalam pekerjaanya, maupun pemimpin untuk dirinya sendiri.

Itulah pemimpin yang berasal dari manusia, atau insan kamil yang memiliki kepekaan social. Atau kepekaan social itu berangkat dari kecerdasan dari dimensi spiritual yang ada dalam diri.

“Insya Allah, ketika bulan ramadhan dilaksanakan dengan penuh khusu, dan sungguh-sungguh, maka kita bisa meraih ketuamaan ramadhan. Dan bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri,” pungkasnya.

Penulis : -
Editor   : jks