Ketua Pusat Koperasi Tempe (Puskopti) Jateng Sutrisno Supriantoro dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Prov Jateng Ir. Agus Waryanto SIP, MM saat meninjau Gudang Primkopti, Salatiga, Senin (25/1). Foto: Ernawaty
SALATIGA, WAWASAN.CO. Masih ada Pemerintah Daerah (Pemda) kurang perhatian terhadap kondisi perajin tempe dan tahu.
Hal ini dibocorkan sendiri oleh Ketua Pusat Koperasi Tempe (Puskopti) Jateng Sutrisno Supriantoro usai kegiatan operasi pasar kedelai di Gudang Primkopti, kawasan Nanggulan, Salatiga, Senin (25/1).
Tampak dalam operasi pasar kedelai di Salatiga Kepala Dinas Ketahanan Pangan Prov Jateng Ir. Agus Waryanto SIP, MM, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Prov Jateng Dra. Ema Rahmawati M.Hum, Kepala Biro Perekonomian Sekda Prov Jateng Sdr. Edi Sulistyo Bramantyo, Kepala Biro ISDA Sekda Prov Jateng Dadang Sumantri.
Selain itu, ada juga Satgas Pangan Prov Jateng langsung dipimpin Operator Satgas Pangan Polda Jateng Ditreskrimsus Kanit I Sub Fit I Kompol Edi Purnomo, Pengurus Puskopti Prov Jateng dan perwakilan Dinas Perdagangan Kota Salatiga serta Kabid Koperasi Dinas Koperasi.
Lebih jauh Sutrisno Supriantoro membeberkan, tak sedikit Pemerintah Daerah (Pemda) tak terkecuali Pemkot Salatiga kurang perhatian terhadap nasib pengrajin tempe dan tahu.
"Ini fakta kami harapkan Pemda turun tangan membantu kondisi pengrajin. Setidaknya, memberikan subsidi harga. Namun sejauh ini belum ada perhatian itu dari Pemkot Salatiga," ujarnya.
Terkait operasi pasar kedelai di Gudang Primkopti kawasan Nanggulan, Salatiga disebutmnya Kota Salatiga menerima 20 ton yang diberikan dalam tahap pertama dipertunjukkan untuk 150 pengrajin tempe dan tahu se-Salatiga.
*Subsidi
Ditempat yang sama, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Prov Jateng Ir. Agus Waryanto SIP, MM menambahkan untuk operasi pasar tahap pertama dengan harga jual Rp 8.500.
"Harga tersebut lebih murah dari harga pasaran yakni Rp 9.500," papar Agus Waryanto.
Agus menjelaskan, kegiatan operasi pasar kedelai yang menggandeng dua distributor itu sebagai upaya menstabilkan harga kedelai khusus di Jawa Tengah. Dan ia bersyukur, pemerintah memprioritaskan operasi pasar kedelai di Jawa Tengah.
"Untuk operasi pasar tahap pertama ini Salatiga mendapatkan kuota 20 ton kedelai. Dengan harga jika Rp 8.500 lebih mudah dari harga pasaran yakni Rp 9.500," pungkasnya.
Dengan adanya operasi pasar kedelai ini, diakuinya ada harapan besar harga tempe dan tahu di Jawa Tengah khususnya dapat kembali stabil.
Kementan RI sendiri, lanjut dia, telah menargetkan 100 hari kerja pertama ditambah 200 hari kerja untuk mengetahui apakah target dari operasi pasar kedelai terwujud. /r
Penulis : ern
Editor : edt