D'Emmrick Hotel Salatiga. Foto : Ernawaty
SALATIGA, WAWASAN.CO. Tingkat hunian di Salatiga sejak "Jateng Dirumah Saja, mengalami penurunan hingga 30 persen karena banyak terjadi pembatalan / cancel.
Marcomm Grand Wahid Hotel Salatiga Doddy Rummata mengatakan, "Dua Hari Dirumah Saja" okupansi yang dicapai hanya 10-20%.
"Mengejar target di momen weekend, justru adanya penggalakkan. Weekend biasanya kami bisa mencapai 50-60% ini cuma 10-20%," kat Doddy Rummata, Minggu (7/2).
Kondisi di Hotel bintang lima itu memang sejak Januari 2020 memang telah down (okupansi). Meski demikian, masih bisa berjalan.
"Karena kita masih ada pemasukan dr delivery resto, karaoke, gym, swimming," paparnya.
Adanya tamu yang cancel dari luar kota, menambah parah kondisi okupansi. Sehingga, jika di hitung dari okupansi per bulan tidak untung .
Hal senada disampaikan Marketing Manager D'Emmrick Hotel Salatiga Martinus Budi. Kepada wartawan, Minggu (7/2) Martinus menyebut sejak 'Jateng Dirumah Saja' berdampak penurunan okupansi penginapan, hotel dan resort di Salatiga turun hingga 30 persen.
Banyaknya cancel atau pembatalan dari pemesanan luar kota akibat adanya Surat Edaran Gubernur Jateng terkait 'Dua Hari Dirumah Saja'.
Hingga saat ini, diakuinya, ada beberapa reservasi yang merubah tanggal. Tercatat, 'occupancy' sejak Sabtu (6/2) ke Minggu (7/2) sekitar 30 persen saja.
"Perkiraan dari tamu yang pending untuk waktu menginapnya bisa dianggap 30% 'revenue' itu," imbuhnya.
Terpisah, Ketua PHRI Salatiga Arso Adji membenarkan adanya penurunan tingkat hunian penginapan, hotel dan resort serta resto di Salatiga.
Arso membeberkan, saat ini pengelola penginapan, hotel dan resort di Salatiga hanya dari revenue yang bisa menutupi operasional
"Untuk resto ocupasi hanya 30-35%. Mungkin karena dari luar kota tidak berani keluar rumah," imbuhnya
Penulis : ern
Editor : edt