Covid-19 Belum Tuntas, Tekpang UKSW Buat Permen Jelly Herbal untuk Tingkatkan Imun


Mahasiswa Studi Teknologi Pangan (Tekpang) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) saat bereksperimen membuat permen herbal untuk imunomodulator. Foto : Ernawaty

SALATIGA WAWASAN.CO. Pandemi Covid-19 yang masih belum selesai memicu Mahasiswa Studi Teknologi Pangan (Tekpang) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW)  membuat permen herbal untuk imunomodulator.

Dhanang Puspita M.Si. dosen Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) mengatakan salah satu alasan pembuatan permen herbal ini beralihnya masyarakat sekarang mulai banyak mengonsumsi jamu herbal.

"Pembuatan permen ini juga Untuk meningkatkan kekebalan tubuh atau merangsang imunitas yang juga disebut imunomodulator," kata Dhanang Puspita M.Si, Selasa (30/3).

Ia mengungkapkan, dengan memanfaatkan dan mengelola herbal daun Miana yang rasanya pahit dan kurang dapat diterima oleh lidah sehingga tidak semua orang  bisa mengkonsumsi.

"Perlu upaya agar jamu bisa dinikmati semua orang dan semua kalangan termasuk anak-anak. Kami mencoba membuat permen herbal dalam bentuk jelly sehingga kita bisa mengenalkan produk herbal ke dalam permen. Dan sejak dahulu ramuan herbal daun Miana digunakan sebagai obat batuk di daerah tertentu seperti di Suku Toraja," terang Dhanang.

Alhasil, tim FKIK berhasil menghasilkan dua jenis yaitu permen herbal dari bahan dasar Miana dan Sambiloto.
"Permen herbal ini mengandung Saponin, Tanin dan Flavanoid, dimana zat tersebut bermanfaat sebagai antimikroba dan dan pemicu iminutas tubuh," pungkasnya.

Ditambahkan Pulung Nugroho, S.T., M.Si total waktu yang dibutuhkan selama dua hari untuk proses pembuatan permen ini.

Proses pembuatan permen herbal yang diawali dengan ekstrasi untuk mengeluarkan senyawa bioaktif dalam tumbuhan Miana dan Sambiloto. Setelah itu dilakukan pemekatan dengan cara menambahkan bahan pengikat yang bertujuan untuk mengentalkan cairan dan menyalut senyawa bioaktif agar tidak rusak saat pengolahan dan menutupi rasa pahit.

Sejauh ini, lanjut dia, untuk satu kali produksi bisa menghasilkan 500 butir permen. Selain sudah diuji kandungan fitokimianya.
"Kami juga sudah melakukan uji standar SNI antara lain untuk menguji kadar air dan kekenyalan sehingga dapat dikonsumsi, meski waktu yang lumayan lama untuk pengeringannya," tandas Pulung.

Permen herbal ini, diakuinya, sudah dibagikan ke beberapa dosen dan mahasiswa FKIK untuk tes rasa. Rencananya permen herbal ini akan dibagikan saat peringatan Paskah mendatang. 

Sebagai tindak lanjut dari temuan ini, FKIK telah menggandeng sejumlah pihak industri untuk memproduksi permen ini secara massal.
"Kami di lingkup akademisi melakukan penelitian dan hilirisasinya sudah dibicarakan dengan dunia industri," pungkasnya

Penulis : ern
Editor   : edt