Penting, Perlindungan Perempuan dari Bahaya Gadget dalam Perspektif Hukum dan Psikologi


SEMARANG, WAWASANCO - Pesatnya kemajuan teknologi, memungkinkan individu mampu menggenggam dunia hanya melalui genggaman tangan. Bahkan hanya dengan satu jari,  individu dapat mengakses segala informasi.

"Termasuk kaum hawa yang menjadikan teknologi, menjadi bagian penting dalam kehidupan. Mulai dari urusan rumah tangga hingga bagi para wanita karir. Saat ini, perempuan pengguna internet paling banyak kalangan profesional, diikuti IRT yang memanfaatkan internet dan teknologi informasi untuk membantu produktivitas," papar Ketua PKPPA-LPPM Universitas PGRI Semarang, Dr. Arri Handayani, S.Psi.,M.Si.

Hal tersebut disampaikannya, dalam webinar 'Perlindungan Perempuan dari Bahaya Gadget dalam Perspektif Hukum dan Psikologi', yang digelar DP3A Kota Semarang bersama FKKKG Kota Semarang, bekerja sama dengan Pusat Kependudukan Perempuan dan Perlindungan Anak (PKPPA) LPPM UPGRIS, yang digelar secara daring dan luring dari kampus I UPGRIS, Semarang, kemarin.

"Namun disatu sisi, kemajuan teknologi ini, juga memiliki dua mata sisi. Dari segi positif, kemajuan teknologi memberikan manfaat yang luar biasa bagi berbagai sendi kehidupan. Gadget atau media sosial  mempengaruhi eksistensi perempuan, mampu memberi peluang IRT mengakses dunia, sehingga dapat mengikuti perkembangan jaman. Termasuk juga bagi  wanita karir, gadget akan sangat menunjang karirnya," terangnya.

Misalnya, melalui gadget tersebut dapat dengan mudah mencari dan mengeksplore dunia, seperti kemampuan memasak, pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak. Termasuk juga, memberikan peluang membuka usaha dari rumah sehingga dapat membantu perekonomian keluarga, seperti berjualan makanan minuman atau baju secara online.

"Disisi yang lain, kemajuan teknologi juga membawa dampak negatif. Terutama, dengan sering disalahgunakan untuk melakukan tindak kejahatan melalui dunia maya (cyber crime).Lalu bagaimana peran perempuan terhadap isu-isu tersebut ?," lanjutnya, dalam kegiatan yang digelar untuk memperingati Hari Kartini tahun 2021 sekaligus dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Semarang ke 474  tersebut.

Untuk itu, perlu menjadi perempuan yang cerdas dan kritis. Termasuk, dengan tidak membagikan info pribadi secara sembarangan dan belajar mengelola emosi.

"Jangan sampai menyalahgunakan gadget, yang justru bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri. Misalnya mengomentari sebuah postingan baik berita atau status. Dalam menanggapi komentar,  fokus pada masalah, tidak menyerang orangnya. Untuk itu, bijak dalam menggunakan gadget sesuai kebutuhan menjadi sebuah keharusan," tandasnya.

Hal senada juga disampaikan, pembicara lainnya, advokat sekaligus Ketua DPC Peradi Semarang, Broto Hastono, S.H.,M.H.,CRA,CLI,CTL,CCL. Dirinya mengajak masyarakat untuk bijak dalam bermedia sosial.

"Selain cyber crime, juga perlu diwaspadi terkait cyber bullying. Apa itu? yakni tindakan yang dilakukan secara sadar untuk merugikan atau menyakiti orang lain melalui penggunaan komputer (jejaring sosial dunia maya) ,telepon seluler dan peralatan elektronik lainnya. Atau, segala bentuk kekerasan (diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan) yang dialami anak/remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet,teknologi digital atau telepon seluler," terangnya. 

Cyber bullying dianggap valid, bila pelaku dan korban berusia di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Bila salah satu pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka dikategorikan sebagai cyber crime atau cyber stalking / cyber harassment.

Praktek Cyber bullying yang sering dilakukan, seperti melakukan missed call berulang – ulang, mengirimkan email /sms berisi hinaan/ ancaman, menyebarkan gosip yang tidak menyenangkan lewat sms, email, komentar di jejaring sosial, pencuri identitas online atau membuat profile palsu kemudian melakukan aktivitas yang merusak nama baik seseorang, berbagi gambar pribadi tanpa ijin, menggugah informasi atau video pribadi tanpa ijin, hingga membuat blog berisi keburukan terhadap seseorang.

"Contoh-contoh ini, jangan dilakukan karena masuk kategori melanggar hukum. Jika melakukannya, bisa terjerat UU RI No.19 tahun 2016 .jo. UU No. 11 tahun 2008  Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Untuk itu, bijak dalam bermedia sosial harus diterapkan," tandasnya.

Selain keduanya, hadir sebagai pembicara Kepala DP3A Kota Semarang, Drs. Mukhamad Khadhik, M.Si.

Sementara, WR IV UPGRIS Ir Suwarno Widodo MSi, dalam sambutannya berharap dengan adanya kegiatan tersebut, dapat menambah wawasan dan pengetahuan peserta, dalam perlindungan perempuan dari bahaya gadged dalam perspektif hukum dan psikologi.

"Bijak dalam menggunakan gadget, termasuk dalam bermedia sosial menjadi penting. Ini perlu dipahami, agar jangan sampai merugikan diri sendiri atau pun orang lain. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, para peserta juga semakin teredukasi," pungkasnya. 

 

Penulis : arr
Editor   : edt