Seperti Ini, Perjuangan Pelaku UMKM di Tengah Pandemi


KLATEN, WAWASANCO – Wabah Covid-19 yang melanda lebih dari satu tahun ini membuat roda perekonomian sulit berputar. Sejumlah pelaku usaha kecil menengah, termasuk di Jawa Tengah pun mati suri. Seperti yang dialami Sunardi, owner Mbok Lanjar Mini Cafe Jalan Merbabu Kios Stadion Trikoyo Klaten.

Usaha yang menyajikan makanan lokal inovatif tersebut sempat memiliki omzet Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan. Selain itu, ia mempekerjakan sekitar lima orang karyawan cafe dan empat orang untuk karyawan produksi makanannya.

Namun, pemuda yang akrab disapa Ardi tersebut harus menerima kenyataan pahit setelah pandemi melanda. Pendapatannya down dan usahanya mati suri, karena pelanggannya menurun signifikan.

“Usaha ini saya rintis lama sejak 2013, mulai dari jualan di car free day, hingga memiliki kios seperti ini. Sebelumnya, omzet bisa mencapai Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan. Tapi setelah pandemi usaha menjadi sepi, saya bahkan sampai memangkas 50 persen karyawan,” kisah Ardi, Jumat (16/4/2021).

Jatuh bangun Ardi mengupayakan usahanya tetap berjalan. Hingga akhirnya, ia mengikutsertakan promosi di Lapak Ganjar, promosi berbasis  media sosial yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah di edisi 39 tema warung makan.

“Menurut saya Lapak Ganjar itu menjadi salah satu wadah pelaku UMKM, untuk bangkit dari keterpurukan karena pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Melalui media sosial Gubernur tersebut, Ardi berharap produk makanannya semakin banyak dikenal orang, bahkan sampai di luar Jawa Tengah.

“Karena yang melihat postingan Lapak Ganjar bukan hanya orang Jawa Tengah. Kalau Mbok Lanjar Cafe Mini ini kan produksi makanan lokal inovatif, jadi hanya ada di sini, misalnya susu goreng, pisang sale, sampai kopi khas klaten,” imbuhnya.

Bahkan, pisang sale yang diproduksi tersebut merupakan gagasan kreatifnya, dalam mengembangkan bahan baku pisang lokal yang tidak laku di pasaran. Sebab, pisang putri sebagai bahan baku, biasanya hanya dibuat pakan ternak.

“Setelah saya tes laboratorium di UGM ternyata memiliki kandungan vitamin C, sehingga saya kembangkan menjadi kuliner khas di sini,” jelasnya.

Ardi mengungkapkan, setelah mengikuti lapak ganjar, usahanya lebih dikenal dan  mengalami kenaikan omzet.

“Alhamdulillah kami mengalami kenaikan omzet, orang yang sebelumnya tidak mengenal bahwa disini ada susu goreng, pisang sale, adanya kopi khas Klaten, sekarang banyak sekali yang semakin tahu. Harapan saya, dengan adanya Lapak Ganjar dapat membuat UMKM bangkit lagi dari keterpurukan, karena adanya pandemi covid-19,” harapnya.

Selain itu, Ardi merasa mendapat perhatian dari pemerintah daerah atas kemajuan usahanya. Terutama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang memfasilitasi sertifikat HAKI dan halal.

“Ada juga pelatihan-pelatihan yang selalu memberikan ruang kepada pelaku UMKM untuk maju dan berkembang,” tandasnya. (

Penulis : rls
Editor   : edt