"Sekul Yangku", Kuliner Tradisional Purbalingga yang Membuat Bahagia


PURBALINGGA, WAWASANCO- Bahagia itu sederhana. Menikmati kuliner tradisional dengan masakan sederhana nan nikmat bisa membuat hati bahagia dan gembira.  Ditengah kemajuan zaman, saat semua makanan dikemas dengan media berbahan baku plastik. Tak banyak  lagi makanan yang dikemas dengan daun.

Biasanya, makanan dikemas dengan daun pisang atau daun jati. Tapi pernahkan, menikmati makanan yang dikemas dengan daun nyangku. Daun ini merupakan sejenis tanaman palem yang memiliki serat kuat. Daun nyangku dalam bahasa latinnya Molineria Capitulata ini banyak ditemukan di lereng Gunung Slamet

Nasi dalam bahasa Jawa “Sekul” yang dibungkus daun nyangku ini sekilas mirip nasi rames. Yang membedakan adalah pembungkusnya. Menunya sebenarnya sederhana; nasi yang dicetak persegi empat ditambah lauk sayur tempe sedikit, tumis pakis atau pepaya muda, tahu, tempe, ikan asin dan telor yang diiris menjadi dua bagian kemudian dibungkus dengan daun nyangku.

“Ternyata, daun nyangku masih ada di Desa Tangkisan Purbalingga. Saat berkunjung ke rumah saudara, saya melihat daun nyangku. Dulu waktu kecil, saya pernah makan nasi yang dibungkus daun nyangku. Aromanya jadi lebih nikmat,” ungkap pemilik Angkringane Faiq, Wiwin Priyanti (46) 
Wiwin yang melapak di Jalan Kemuning Raya 22 Perumahan Griya Andi Kencana Purbalingga mencoba menambahkan pilihan menu sekul nyangku berdampingan  dengan nasi kucing dan aneka sate khas angkringan.

“Saya mencoba menambahkan menu sekul nyangku. Harganya Rp.9.000. Ternyata banyak yang menyukainya. Semalam bisa habis 25 bungkus,” ungkap Wiwin yang mulai membuka lapaknya pukul 17.00 Wib.

Ia menambahkan, daun nyangku bersifat lebar memanjang dan punya serat yang kuat, sehingga ideal sebagai pembungkus makanan. Tanaman ini sangat mudah tumbuh dan mudah didapatkan

“Ini menggugah kenangan. Kata ibu saya, dulu daun nyangku digunakan untuk membungkus oleh-oleh saat ada hajat besar atau sekadar bungkus bekal petani pergi ke sawah,” ungkapnya. 

Penikmat sekul nyangku, Munjiat mengaku, keberadaan sekul nyangku perlu dilestarikan. Ini telah kebiasaan yang telah dilakukan puluhan tahun.

“Bukan cuma cerita kuliner. Ini harus menjadi bagian tradisi dan kebudayaan yang perlu dilesatarikan. 

Penikmat lainnya, Teguh Pratomo menyambut baik dengan adanya kuliner yang dikemas dengan daun nyangku. Biasanya semua makanan dikemas dengan kertas minyak, dan kemasan plastik atau kertas. Ini todak ramah lingkungan.

“Dari segi fungsi, daun nyangku bisa memenuhinya, justru lebih eco-friendly. Karena saat jadi limbah, daun akan terurai secara alami menjadi kompos dan tidak menyebabkan kerusakan alam. Soal masakan, jadi tambah nikmat, apalagi disajikan dengan wedang jahe panas,” ungkap Teguh yang juga aktifis pecinta alam di Purbalingga.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt