Parmalim dalam Layar Putar

198

Bertepatan dengan hari toleransi sedunia yang jatuh pada tanggal 16 November 2017 sebuah film bertema kepercayaan diluncurkan oleh Yayasan Kampung Halaman dan diputar di lebih dari 40 titik di seluruh Kota Indonesia. Lewat layar-layar alternatif dengan cara mengisi formulir di website ahuparmalim.org. Di Semarang, pemutaran film Ahu Parmalim berlokasi di Universitas Wahid Hasyim, diinisiasi oleh Segi Film yang bekerja sama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia).

Film Ahu Parmalim bercerita tentang seorang remaja bernama Charles yang merupakan penghayat Parmalim (Ugoma Malim).  Parmalim adalah kepercayaan tertua di Tanah Batak yang dibawa oleh Sisingamangaraja XII. Yang menarik dari Parmalim adalah sebagai kepercayaan  tua, ia sangat terbuka dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Maka tak sedikit dari penghayatnya yang berhasil sekolah sampai ke perguruan tinggi atau memiliki jabatan di kancah pemerintahan.

Sebagai kepercayaan yang lahir di tengah gejolak Belanda masih keras dan Gereja masih sanngat berkuasa, Parmalim harus mampu bertahan. Maka penddidikanlah yang mereka gunakan untuk menjadi tombak. Di sekolah Charles semua anak sudah mendapatkan haknya dalam mendapatkan pelajaran agama dan penguatan karakter, tidak terkecuali Ugoma Malim. Hal yang langka di ranah pendidikan untuk sebuah sekolah mempu mengakomodir semua hak anak didiknya mendapatkan pelajaran agama sesuai agama yang dipeluk. Charles sendiri menyeimbangkan waktunya lewat sekolah, membantu orang tua di ladang dan menjalani ritual dan kegiatan Parmalim.

Kehidupannya yang keras membentuk karakter Charles menjadi lebih matang dari teman-teman seusianya. Untuk menunjang cita-citanya sebagai polisi,  Charles mengikuti  eskul Paskibraka, dan Kung Fu. Karakter masyarakat Batak yang terkenal dengan keras, di sini sangat ditonjolkan. Keras positif untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Dalam film berdurasi 24 menit ini penonton tidak muncul konflik yang berarti. Melalui film ini kita akan bisa menyimpulkan bahwa Charles tak beda dengan remaja lainnya yang mengalami fase-fase tertentu dan menjalani kehidupan yang sama saja dengan remaja lain. Tidak peduli dengan agama atau kepercayaan yang kamu pilih, berbuat,bermimpi, dan berkarya adalah hak setiap orang. Seperti yang dikatakan oleh Miss Rosa, sebagai pembicara dari SMA Kristen Terang Bangsa

“Tidak peduli apa agamamu, kepercayaanmu,tunjukan aja yang terbaik, bantu orang-orang di sekelilingmu. Dari situ kita akan tahu bahwa Tuhan kita hebat.”

Dari jumlah penonton,  tampak keanekaragaman baik pada etnis, agama ataupun background masing-masing. Sebut saja perkumpulan Rasa Dharma, Sekolah Teologi Agama Budha Syailendra, Gusdurian, seniman, wartawan, akademisi, relawan kemanusiaan, karang taruna dan lainnya. Diskusi dibuka langsung dengan Pembicara, Ubbadul Adzkiya (Dosen Fakultas Agama Islam UNWAHAS), Vita Rossalia Piri (Pengajar di SMA Terang Bangsa), Js. Andi Gunawan (Sekretaris Matakin Jateng) dan NC Octavian (Pengamat Film).

“Sebagai tanah yang terkenal keras, rupanya toleransi begitu di junjung. Lihatlah mereka bisa hidup berdampingan.  Tamparan keras bagi masyarakat Jawa yang dikenal lembut namun kasus penolakan masih terjadi, seperti yang terjadi di Tegal dimana aliran kepercayaan Sapto Dharmo ditolak dalam pemakaman, lantaran bukan muslim”, Nc Ocatvian menuturkan.

“Penghayat Parmalim juga menunjukan sikap yang baik dan khusyu saat beribadah. Sedangkan di gereja sendiri saya masih sering menemukan mereka yang asik dengan gadget dan selfienya.,“ Vita Rosalia Piri  menambahkan.

“Ketimpangan para penghayat juga masih terlihat dalam pernikahan. Penghayat yang menikah secara adat tidak diakui dalam catatan negara sebagai suami istri yang sah. Sehingga apabila mereka mengikusertakan dalam akte, status anak yang tertulis adalah anak hasil hubungan di luar nikah atau anak ibu,“ Ubbazdul Adzkia menjelaskan dalam pendampingannya dengan ELSA membantu para penghayat mendapatkan haknya.

Pengalaman menonton ini membuat respon positif dari para penontonya. Juna beserta empat temannya dari Sekolah Teologi Agama Budha (STAB) Syailendra menuturkan ini adalah pengalaman menontonnya yang menyenangkan.

“Baru kali ini saya merasa diterima oleh teman-teman muslim khususnya, padahal saya punya pengalaman yang tidak menyenangkan  sewaktu SMA.’’

 Apresiasi juga datang dari pembicara Js. Andi Gunawan, ia menyatakan senang pada antusias para penonton sampai akhir acara, bahkan banyak dari penonton yang masih ingin berdiskusi setelah acara ditutup.

“Tidak banyak acara yang bisa dan  mampu membuat penontonnya antusias bahkan sampai akhir acara, terlebih konsep diskusi ini bagus dan hangat.”

Sementara pihak penyelenggara kegiatan Dania Sindy dari Segi Film menuturkan bahwa tema toleransi dipilih bukan tanpa alasan. Ia sudah memprediksi bahwa tema ini akan  memancing diskusi dari banyak kalangan. Terlahir penghayat Parmalin belum begitu dikenal masyarakat.

“Saya   sangat tertarik untuk menayangkan film ini, dan seperti dugaan film ini cukup banyak yang menonton. Saya bahkan dihubungi oleh dua bapak dari Sumatra Utara kaitannya dengan lokasi pemutaran film”

Berbicara tentang aliran kepercayaan di Indonesia, berita baik datang dari Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan permohonan uji materi terkait pengakuan dalam negara dalam catatan administrasi kependudukan yang mengizinkan para penghayat menuliskan kepercayaan mereka dalam KTP, setelah sebelumnya hanya tertulis kolom kosong pada kolom agama untuk aliran kepercayaan,  sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No 24/2013 tentang perubahan atas Undang-Undang No 23 Tahun 2006 tentang Adiministrasi Kependudukan.

Sindi Dania Qistina, pegiat literasi media, voluntir berbagai kegiatan sosial, pecinta film dan puisi.

Penulis :
Editor   : awl