Cara Berkelit dari Godaan Kartu Kredit

288

Ada kalanya Anda terpaksa menjadi pengguna kartu kredit, lantaran Anda tak sanggup menolak rayuan tenaga marketing bank penerbit ''uang plastik'' itu. Sebenarnya ada kesempatan untuk berkata ''tidak''. Kami membantu Anda menolak penawaran kartu kredit. Ikuti saja cara berikut ini.


Jangan Menghindar, Katakan TIDAK
Ini merupakan langkah paling mujarab. Kata ''tidak'' itu sangat ampuh untuk menolak sebuah penawaran. Anda tak perlu menghindar. Anda juga tak repot perlu mengutarakan bermacam alasan untuk menolak penawaran itu. Misalnya saja, Anda cukup berkata, ''Tidak, saya belum memerlukannya!'' Memang, awalnya terasa berat dan sulit. Apalagi jika Anda tak terbiasa mengatakan itu. Tapi percayalah, jika Anda sanggup mengatakan ''tidak'' Anda tak akan dikejar-kejar lagi. Anda pun tak memberikan harapan kepada marketing  bank yang menawarkan kartu kredit tersebut. Dia tak punya alasan lagi untuk merayu Anda. Satu hal lagi, Anda tak terbebani.


Jangan TERGODA
Biasanya rayuan marketing sangat menggoda. Kata-katanya manis. Ini bisa melenakan Anda. Jika mental tak kuat, Anda pun terbujuk. Apalagi mereka pasti menawarkan bermacam kemudahan, juga keuntungan yang bisa Anda dapatkan jika Anda menggunakan kartu kredit tersebut. Namun satu kata kunci yang harus Anda pegang, jangan sampai tergoda. Apa pun bentuk kemudahan atau keuntungan yang bisa Anda raih, jauhkan itu dari pemikiran Anda. Bukankah Anda sudah punya sikap, bahwa kartu kredit itu memancing Anda berlaku boros? Kartu kredit juga berpotensi mengacaukan stabilitas perekonomian rumah tangga Anda? Jadi jika hati Anda sudah memutuskan tidak, maka jangan sampai tergoda. Apa pun iming-iming keuntungan yang bisa Anda dapatkan, tutup pintu hati Anda untuk kartu kredit.


Waspada SANJUNGAN
Rata-rata marketing merupakan figur yang pintar menempatkan lawan bicaranya. Mereka juga piawai mengambil hati calon konsumennya. Kadang menyanjung menjadi jurus jitu mereka untuk ''menaklukkan'' Anda. Misalnya saja, mereka akan mengatakan bahwa Anda merupakan pribadi yang menarik, wawasan luas, dan enak berkomunikasi dengan siapa saja. Tak lupa dia juga akan mengatakan Anda termasuk figur yang sukses di bidang Anda. Memang pada pertemuan kali pertama, puja-puji seperti itu tak langsung keluar begitu saja. Seorang marketing

yang pintar biasanya akan membuat janji bertemu dengan Anda beberapa kali. Mereka juga tahu ''siapa'' yang jadi target. Mungkin kali pertama bertemu mereka tak akan menawarkan produknya secara langsung. Jika sudah memuji, menyanjung, dan Anda sudah masuk dalam ''perangkapnya'', baru mereka melakukan penawaran. Misalnya saja, dia akan berujar bahwa Anda sebagai orang dengan reputasi karir sekelas Anda sudah saatnya menggunakan kartu kredit. Sehingga tanpa berpikir panjang lagi, Anda menerima tawaran itu. Jadi waspada terhadap sanjungan marketing. Lain halnya jika Anda memang sudah betul-betul membutuhkan kartu kredit.


Jauhkan RASA IBA
Iba hati. Perasaan seperti itulah yang kadang sulit Anda hindari. Mungkin saja Anda kasihan melihat marketing kartu kredit itu yang dengan gigih, berkali-kali, atau tak kenal lelah untuk merayu Anda. Sebagai manusia normal, wajar jika Anda punya perasaan iba terhadap orang lain. Tapi jangan hanya karena merasa kasihan, Anda menjadi pengguna kartu kredit. Anda perlu menghitung secara matang, sebelum Anda menentukan sikap. Ingat, kartu kredit bukan hadiah. Bisa jadi Anda akan terbelit hutang, jika tak mampu membayar kelak. Jadi jauhkan iba hati, jika Anda memang belum butuh kartu kredit. Jangan menaruh iba pada orang lain, jika pada akhirnya Anda sendiri yang repot dan susah. Toh tenaga marketing itu tak akan membantu Anda, jika misalnya Anda kesulitan membayar kredit. Ingat itu.


Bukan Kebutuhan MENDESAK
Pastikan Anda belum membutuhkan kartu kredit. Ini harus Anda tanamkan dalam-dalam pada diri Anda jika Anda benar-benar tak ingin menerima tawaran itu. Sikap tersebut perlu Anda pegang teguh, sebagai bekal untuk menghadapi rayuan dan godaan marketing kartu kredit. Ya, seperti telah di tulis pada bagian awal tulisan ini, Anda jangan sampai tergoda. Kalau memang Anda belum membutuhkannya, katakan saja terus terang. Tentu tak ada alasan bagi dia untuk terus mendesak Anda. Memang untuk mengatakan ''tidak'' yang elegan, butuh teknik tersendiri (Ini sudah diulas pada Cempaka edisi 16/XV).


Sedikit BERBOHONG
Bohong untuk kebaikan, boleh saja. Karena kebohongan ini merupakan teknik menolak penawaran yang juga cukup jitu. Jika Anda ditawari untuk memiliki kartu kredit, jawab saja Anda sudah punya. Kalau perlu katakan Anda punya dua atau tiga kartu kredit. Padahal satu pun Anda tak punya. Sebut saja kartu kredit Anda diterbitkan bank-bank yang bonafit. Kalau bisa bank yang Anda sebutkan lebih besar, dan lebih berkualitas dari bank penerbit kartu kredit yang ditawarkan pada Anda. Atau kalau Anda kebingungan, katakan saja kartu kredit Anda sama dengan yang dia tawarkan. Ya, bohong sedikit tak apa-apa. Yang penting Anda bisa terlepas dari penawaran kartu kredit.


Minta WAKTU
Jika Anda termasuk orang yang berhati lembut. Tak bisa menolak secara langsung, atau tak bisa berbohong, gunakanlah cara ini. Katakan saja, Anda merasa tersanjung dan beruntung mendapatkan penawaran itu. Hanya saja, mintalah waktu beberapa hari untuk memikirkan tawaran tersebut. Anda perlu mendiskusikan masalah itu dengan suami atau isteri, atau keluarga Anda. Jika tiba saat yang Anda janjikan, mintalah maaf bahwa suami atau isteri Anda merasa belum perlu memiliki kartu kredit. Tentu saja, Anda telah mendiskusikan masalah itu dengan suami atau isteri. Dengan begitu Anda tak berbohong.


Anda Tak TERTARIK
Lain halnya jika Anda termasuk orang yang biasa berbicara terus terang. Anda bisa mengatakan bahwa Anda tak tertarik menggunakan kartu kredit. Selesai! Anda tak perlu beralasan macam-macam, juga tak harus berjanji. Selain itu, Anda juga tak perlu repot-repot ''bersembunyi'' ketika orang yang menawarkan kartu kredit menemui Anda. Yah, kadang keterusterangan memang meringankan langkah Anda. Anda pun tak terbebani.

Penulis :
Editor   :