Sukirman Ajak Seniman Mencermati Ekosistem Baru Paska Pandemi


Wakil Ketua DPRD Jateng Sukirman

SEMARANG, WAWASANCO – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jateng Sukirman mengatakan pandemi Covid-19 telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dunia seni, lebih khusus seni pertunjukan. Banyak seniman yang kesulitan untuk melanjutkan aktivitasnya karena kehilangan media untuk berkarya, terutama mereka yang ada di daerah-daerah terpencil.

 

“Kini, era pandemi sudah berakhir. Namun bukan berarti para seniman bisa langsung bangkit dengan gemilang. Apalagi, tantangan semakin berat,” tutur Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

 

Berbicara pada Focus Group Discussion dengan tema ‘Ekosistem Baru Bagi Seniman’, Jumat (11/8), politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menambahkan, perkembangan teknologi yang serba digital saat ini juga menjadi masalah baru bagi mereka yang harus menyesuaikan diri menjadi seniman live streaming.

 

Namun, lanjut Sukirman, saat mencoba beradaptasi dengan dunia digital, juga akan ada masalah tersendiri. Misalnya saja, seniman akan sibuk di depan layar, terobsesi dengan pembuatan konten sensasional setiap hari dan terobsesi kepada status, untuk memonetisasi pertunjukan. 

 

“Padahal seni pertunjukan itu misalnya, tidak bisa hanya bergantung pada aspek digitalisasi, karena bisa terjebak pada seniman konten. Ia membutuhkan ruang fisik dan virtual secara beriringan, sehingga terbentuk ruang komunikasi dua arah, interaksi pelaku seni dengan masyarakatnya,” tutur Sukirman.

 

Bahkan, menurutnya, anggapan umum bahwa seni hanya berfungsi sebagai hiburan, dan belum dianggap sebagai bagian dari keseharian yang punya dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan ikut menjadi tantangan.

 

Ekosistem Baru

 

Sukirman mengajukan pertanyaan penting, setelah ruang untuk tampil terbuka sudah mulai longgar paska pandemi, apakah dunia seni ikut menjadi prioritas dari pemerintah untuk juga bisa bangkit? 

 

Diakui peran pemerintah saja tidak cukup, harus ada kolaborasi dengan berbagai pihak, agar seniman juga kembali bangkit, bahkan bisa menjadi lebih baik dari sebelum masa pandemi.

 

Oleh karena itu Sukirman mewanti-wanti para seniman dengan munculnya ekosistem baru paska pandemi. Di samping seni belum dapat menjadi penghidupan utama untuk seniman juga minimnya data yang terintegrasi tentang para pelaku seni dan karyanya, hingga ketimpangan akses terhadap ruang etalase, distribusi, inkubasi karya baik bagi seniman maupun publik.

 

“Untuk itu saya hanya bisa mendorong mereka untuk cerdas melakukan kolaborasi, memperluas jaringan, memobilisasi sumber daya. Sehingga ketimpangan akses terhadap ruang etalase, distribusi, inkubasi karya baik bagi seniman maupun publik, dapat semakin diminimalisir,” Sukirman menghimbau.

 

Karenanya Wakil Ketua DPRD Jateng itu mendorong peran swasta, institusi seni mapan, maupun filantropi untuk mendukung secara kolektif pada komunitas seni. Salah satu wadahnya dapat berupa dana abadi khusus kesenian yang menghimpun dana individu, swasta, dan lembaga non-pemerintah. 

 

“Langkah ini dapat dilakukan dengan perluasan dan pendalaman porsi pendidikan seni di sekolah formal,” kata Sukirman.

 

Ia mengingatkan, peran seniman sangat penting dalam melestarikan nilai-nilai kebangsaan warisan para pendahulu bangsa. Seniman dapat menyampaikan cerita sejarah terkait kisah kepahlawanan lewat berbagai pertunjukan. Mulai dari semisal ketoprak, maupun teater yang diminati kalangan muda. (Adv/Anif)

Penulis : ardi
Editor   : edt