Kejadian balita pendek atau biasa dikenal dengan stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2022, angka stunting di Indonesia adalah 21.6% dengan target 14% pada tahun 2024, dengan prevalensi balita stunting di Kabupaten Blora masih tergolong tinggi yaitu 25.8%. Ada tiga faktor pemberian makanan pendamping yang tidak mencukupi yang diidentifikasi WHO sebagai penyebab stunting di dunia yaitu: 1) buruknya kualitas pangan; 2) praktik pemberian makanan yang tidak sesuai; 3) keamanan makanan dan air kurang terjaga. Asupan nutrisi yang tidak memadai selama masa kanak-kanak diakui sebagai faktor penyebab kegagalan pertumbuhan.
Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan penulis, tentang analisis faktor yang mempengaruhi kejadian stunting di Kabupaten Blora adalah salah satunya karena rendahnya konsumsi protein pada balita. Faktor tingkat kecukupan protein merupakan salah satu penentu kejadian stunting. Sumber protein dapat berasal dari hewani maupun nabati. Akan tetapi, meskipun sama-sama mengandung protein, protein hewani memiliki keunggulan lebih mudah diserap dalam tubuh dibandingkan protein nabati karena terdapat asam amino yang lebih lengkap dan mempunyai mutu zat gizi yaitu protein, vitamin dan mineral lebih baik. Oleh sebab itu protein hewani disarankan untuk lebih banyak dikonsumsi.
Protein dapat meningkatkan kadar insulin seperti faktor pertumbuhan I (IGF-I), hormon yang merangsang pertumbuhan pada anak. Semakin sedikit tingkat kecukupan protein, maka risiko anak menjadi pendek semakin besar. Daging sapi adalah makanan yang tinggi protein. Sumber protein yang lain dapat berasal dari ikan. Protein dalam ikan kembung memiliki asam amino yang lengkap dan mudah dicerna oleh tubuh. Modifikasi makanan tinggi protein dapat diolah menjadi nugget, karena pembuatan nugget cukup sederhana, bisa dilakukan dengan peralatan sederhana, dan makanan nugget banyak diminati oleh balita.
Kader memiliki peran serta yang cukup tinggi untuk menurunkan prevelansi stunting. Kader adalah anggota masyarakat yang dipilih dari dan oleh untuk masyarakat, mau dan mampu bekerja bersama dalam berbagai kegiatan masyarakat secara sukarela. Adanya keterlibatan kader dalam pengimplementasian program stunting bersesuaian dengan pilar penanganan stunting di Indonesia pada point ke-3 yaitu konvergensi, koordinasi, dan konsolidasi program nasional, daerah, masyarakat. Disebutkan dalam Permendesa No. 19 tahun 2017 pada point ke-9 yaitu pemberdayaan masyarakat desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa.
Prodi Kebidanan Blora Program Diploma Tiga Poltekkes Kemenkes Semarang turut berpartisipasi dalam upaya penanggulangan stunting, salah satunya melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah melakukan pemberdayaan terhadap kader dalam pembuatan makanan tambahan nugget daging sebagai upaya pencegahan stunting. Sasaran program ini adalah masyarakat mitra yaitu kader di wilayah Desa Purworejo Kecamatan Blora Kabupaten Blora.
Metode pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan pemberian edukasi mengenai stunting dan pemberian makanan pada balita, kemudian pelatihan kepada kader yaitu pemberian ketrampilan dalam membuat nugget daging sapi dan nugget ikan kembung dengan narasumber dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora. Sebelum dan setelah pelatihan dilakukan pengukuran pengetahuan dan ketrampilan kader. Dari hasil pengukuran, diperoleh hasil terjadi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan kader.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi pembuatan nugget daging oleh kader kepada ibu balita stunting, pendampingan terpadu pemberian makanan nugget kepada balita stunting. Metode pelaksanaan program ini diselenggarakan dengan cara pelatihan terstruktur dan pendampingan terpadu sehingga dapat diterima oleh masyarakat desa.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini selain bermanfaat bagi masyarakat Desa Purworejo, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, juga berperan dalam mendukung program pemerintah untuk membentuk masyarakat yang sehat dan mandiri. Kegiatan ini juga selaras dengan Tri Dharma Poltekkes Kemenkes Semarang yang menekankan pada upaya pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal dan merujuk pada permasalahan daerah. Tolak ukur keberhasilan kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan kader dan ibu balita stunting dalam Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) nugget daging sebagai upaya pencegahan stunting dan dukungan positif dari pihak terkait.
Penulis adalah Dosen Prodi Kebidanan Blora Program Diploma Tiga Poltekkes Kemenkes Semarang
Penulis : - , -
Editor : rix