Razia Buku dan Runtuhnya Nalar Intelektual

  • Opini Langit Bara-Lazuardi

BMI merazia buku-buku yang, mereka nilai, berbau komunisme

Untuk kali kesekian, razia buku terjadi lagi. Sekelompok orang yang menamakan diri bagian dari Brigade Muslim Indonesia merazia buku-buku yang, menurut mereka, mengandung unsur komunisme, di toko buku Gramedia Makassar. Aksi ini mereka videokan, dan langsung menjadi viral karena mendapat kecaman.

Aksi Brigade Muslim Indonesia ini membuat ingatan kita kembali di awal tahun, ketika babinsa di Kediri juga melakukan hal serupa, dengan alasan mencegah paham komunisme hidup lagi. Juga di Padang, di Riau, dan di Bandung. Aksi ini seakan tak pernah mendapatkan perhatian tuntas, tak pernah diselesaikan. Toko buku sekelas gramedia pun, biasanya, membiarkan aksi semacam ini, dan tidak melakukan upaya perlawanan apapun.

Padahal, berdasarkan Putusan MK No. 6-13-20/PUU-VIII/2010 dinyatakan dengan jelas bahwa setiap penyitaan buku harus sebelumnya melalui proses pengadilan. Sehingga, tindakan apapun di luar proses peradilan, otomatis adalah tindakan yang melawan hukum. Dan pembiaran atas tindakan itu berarti membuat mereka, ormas-ormas dan aparat itu, berdiri dengan sombong di atas hukum.

Tindakan razia buku itu juga menunjukkan darurat kecerdasan di masyarakat kita. Pembiaran atas razia itu adalah pembusukan atas nalar intelektual kita. Sebabnya, ormas itu bagian dari kelompok yang justru tidak membaca, tak memiliki nalar intelektual, sehingga asal merazia. Mereka merazia buku karya Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx, padahal buku itu secara terang dan ''kejam'' menguliti pemikiran Marx, dan menunjukkan kelemahan nalar idelogi komunisme. Jadi, bagaimana mungkin buku yang ''anti-Marx'' justru disita karena dianggap menyebarkan faham itu. Ajaib.

Di titik inilah nalar intelektual kita diciderai. Mereka menyita sesuatu tanpa membaca, membuat masyarakat kehilangan akses atas pengetahuan. Padahal, di era digital ini, usaha razia buku itu adalah kesia-siaan semata, hanya pamer kuasa kebodohan. Buku apa yang saat ini tidak bisa diakses di internet? Semua ada. Bebas. Mudah. Bahkan gratis.

Di saat keliterasian kita berada di posisi 61 dari 62 negara, dan hanya menang dari Boswana, razia buku ini juga tamparan keras pada negara. Jadi, jika aparat mendiamkan, jika toko buku membiarkan --padahal mereka harusnya menjadi agen pencerahan-- dan bukan sekadar jualan, maka keterpurukan bangsa ini dalam literasi akan kian parah. Kita seharusnya lebih takut pada kebodohan daripada ormas-ormas yang jualan komunisme, ideologi yang sudah bangkrut dan sepi peminat itu.

Di titik inilah kita harus ingat bapak pendiri bangsa, yang justru banyak mendapatkan inspirasi dari buku-buku kira saat membela dan merumuskan negara ini. Dari buku-buku kiri itulah mereka tercerahkan, dan menginspirasikan perlawanan, sampai rela terbunuh atau di penjara. Tak heran jika Hatta berkata bahwa dia siap saja di penjara asal selalu bersama buku. Karena, ''Dengan buku aku merasa selalu  terbebaskan,'' katanya.**

 

Penulis : lbl
Editor   : awl