Antara Demokrasi dan Toleransi


Pidato Megawati Soekarnoputri  dalam pembukaan Kongres V PDI Perjuangan (PDIP) di Sanur, Bali, Kamis (8/8) patut direnungkan. Salah satunya mengenai proses demokrasi perlu dibarengi adanya toleransi. Karena demokrasi  Pancasila tanpa toleransi akan menimbulkan dampak negatif.

Ketua Umum PDIP tersebut  juga menyampaikan bahwa dirinya melihat intoleransi membuat masyarakat menjadi terpecah. Masyarakat juga nantinya yang menjadi korban. Oleh karena itu dia  memnta agar segenap elit politik khususnya kader PDIP tetap memperhatikan toleransi dalam menjalankan proses demokrasi.

Megawati juga menyinggung mengenai ideologi Pancasila yang digali oleh Bung Karno. Pancasila identik dengan adanya toleransi dan mengedepankan keberagaman. Oleh karena itu ideology Pancasila harus dipertahankan. Karena itulah yang mempersatukan bangsa Indonesia. Dia meminta agar kader dan jajaran pengurus PDIP di semua tingkatan mengawal ideology Pancasila.

Proses demokrasi kita belakangan memang riuh rendah. Dimulai sejak Pemilu 2014 dilanjutkan Pilkada DKI Jakarta 2017. Yang memprihatinkan isu SARA dimunculkan dan membuat toleransi antar umat Beragama sedikit merenggang.  Kondisi tersebut terus terjadi, hingga menjelang Pemilu 2019.

Polarisasi di masyarakat  terjadi karena adanya intoleransi.  Kita merasakan ketika kita berbeda dukungan akan timbul perbedaan pendapat yang berujung pada intoleransi. Padahal Pancasila dan UUD 1945 mengamanatkan agar kita selalu menjaga toleransi. Karena bangsa Indonesia memang terdiri dari berbagai suku dan agama.

Namun dalam politik semuanya sah adanya. Polarisasi yang berakibat terjadinya intoleransi menjadi semacam komoditas untuk meraih dukungan. Masyarakat terlebih tidak dipikirkan. Yang terpenting tujuan politik tercapai. Sangat disayangkan memang.

Kini proses politik Pemilu 2019 telah berakhir. Apa yang disampaikan Megawati menjadi bahan perenungan bagi kita semua. Ketika proses politik sudah selesai, elit politik juga mulai berangkulan. Mereka tidak boleh melupakan, intoleransi yang terjadi akibat adanya polarisasi harus diperbaiki. Jangan sampai kita terpecah.

Ulama besar yang baru saja wafat almarhum Kya Maimun Zubair (Mbah Moen)  semasa hidupnya juga selalu mengajarkan kepada umatnya agar selalu cinta tanah air dan menjaga kebhinekaan. Almarhum juga secara tegas menyampaikan agar kita setia kepada Pancasila dan tetap menjaga Keutuhan Negara Republik Indonesia (NKRI)

Apa yang disampaikan Megawati dan ulama besar Mbah Moen menjadi catatan bagi kita.  Menjadi acuan bagi para politisi dan pemimpin untuk senantiasa memperhatikannya. Demokrasi kita sudah berjalan dengan baik. Proses pemilu dan suksesi kepemimpinan dijalankan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Yang juga tidak boleh dilupakan tentunya adalah bagaimana proses tersebut dilaksanakan dengan tetap memperhatikan toleransi. Agar kita tetap besar karena kita bersatu. Proklamator Bung Karno selalu menggelorakan “Kuat Karena Bersatu, Bersatu Karena Kuat”.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt