Mendesak,  Ruang ASI bagi Ibu Menyusui

  • Opini Sarimah SST

AIR SUSU IBU (ASI)  adalah makanan utama dan terbaik bagi bayi, terlebih dalam enam bulan pertama kehidupannya. Sesungguhnya bayi hanya butuh ASI pada usia tersebut sehingga WHO dan Kementerian Kesehatan telah merekomendasikan ibu untuk menyusui bayinya secara ekslusif (hanya memberi ASI saja) pada usia enam bulan pertama. 

Namun dalam realitas keseharian masyarakat kita, bayi terpaksa harus minum susu formula (sufor) di usia tersebut. Pada sebuah acara dimana banyak ibu muda yang membawa bayi ikut hadir disana , mereka lebih memilih menenteng botol berisi larutan sufor, ketimbang memberi ASI atau menyusui bayinya.

Ironis memang, ketika Pemerintah sedang gencar melakukan kampanye pemberian ASI ekslusif, namum secara bersamaan pula saat kita berada di ruang publik, stok sufor baik yang sudah siap minum ataupun yang masih bubuk setia mendampingi wajah polos si bayi dalam gendongan. Pernah penulis bertanya, mengapa sang buah hati tidak diberi ASI? Jawaban yang terlontar adalah "malu, dilihat banyak orang". Jika rasa malu menjadi sebab utama seorang bayi tidak bisa mendapatkan ASI, maka perlu dipikirkan keberadaan fasilitas khusus agar seorang Ibu tetap bisa nyaman memberikan ASI pada bayinya baik secara langsung maupun tunda saat tidak berada di rumah.

Seiring meningkatnya pendidikan, serta adanya peluang dan kesempatan kerja, perempuan yang tadinya nyaman berstatus sebagai ibu rumah tangga dan menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah, sekarang ikut menopang ekonomi keluarga dengan bekerja. Yang harus kita pikirkan bersama, adalah bagaimana seorang perempuan bisa tetap berkarya dalam pembangunan negara ini tetapi tanpa harus merampas hak anak untuk mendapatkan air susu dari ibunya.

Setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal baik fisik, mental, spiritual dan kecerdasan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak. Periode emas awal kehidupan terjadi sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun karena masa itu terjadinya perkembangan otak paling cepat sehingga sangat diperlukan pemberian ASI ekslusif selama enam bulan  dan diteruskan hingga berusia dua ( 2 ) tahun, karena ASI mengandung zat gizi yang sesuai dan optimal bagi tumbuh kembang.


Perlu Dukungan
Adanya kesempatan seorang ibu untuk menyusui, butuh dukungan dari semua pihak baik dari suami, keluarga, masyarakat, dan Pemerintah. Deklarasi Innocenti Tahun 1990 menyatakan bahwa setiap negara diharuskan memberikan perlindungan dan dorongan kepada ibu agar berhasil memberikan ASI secara ekslusif  kepada bayinya. 

Dan Pemerintah mendukung deklarasi tersebut yang salah satunya tertuang dalam Pasal 128  UU 36/2009 ayat 2 yang menyebutkan Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Dan ayat tiganya menyebutkan bahwa penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. UU itu pun diperkuat dengan Permenkes No. 15 Tahun 2013 yang mengatur keberadaan Ruang ASI dengan fasilitas khusus sebagai prasarana untuk menyusui dan/atau memerah serta menyimpan ASI.

Sepuluh tahun sejak diundangkan dan telah terbit Permenkes sebagai pendukungnya, fasilitas khusus berupa ruang dan prasarana penunjang bagi ibu menyusui itu (Ruang ASI / Ruang Laktasi ) belum bisa dinikmati oleh para perempuan pemberi ASI, saat mereka tidak berada di rumah dan harus mengeluarkan ASI untuk bayi mereka, yang notabene adalah masa depan bangsa dan negara ini. 

Fasilitas umum seperti taman bermain, tempat ibadah, sekolah, SPBU, kantor pemerintahan, tempat wisata, pasar atau mall, belum banyak yang  menyediakan  Ruang ASI untuk memenuhi hak sekaligus kewajiban mereka sebagai seorang ibu yang punya bayi.

Padahal kita tahu, kualitas kehidupan bayi kita sekarang adalah kualitas sumber daya manusia bangsa ini esok hari. Lanchet (2008) menjelaskan bahwa angka kerentanan terhadap infeksi penyakit dan kematian  jauh lebih rendah pada anak yang mendapatkan ASI ekslusif daripada yang tidak. Dengan demikian, ASI dapat menurunkan subsidi Pemerintah untuk biaya kesehatan. 

Maka penyediaan ruang ASI dan fasilitas pendukungnya di seluruh ruang publik dan tempat kerja telah sangat mendesak untuk diwujudkan, karena bagaimanapun juga mereka ( bayiku, bayimu, bayi kita ) adalah anak manusia yang harus dimuliakan dengan mendapatkan susu manusia pula.

 

Sarimah SST,  nutrisionis lulusan Poltekkes Kemenkes Semarang

Penulis : -
Editor   : awl