Gunung Slamet dan Masyarakat Tanggap Bencana


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana  Geologi (PVMBG) menaikkan status  Gunung Slamet dari  semula normal atau level 1 menjadi level  2 atau waspada.  Kenaikan tersebut  mulai diberlakukan sejak Jumat (9/8) pukul 09.00 WIB.

Kenaikan status tersebut  didasarkan pada pemantauan instrumental. Dilaporkan terjadi peningkatan yang cukup signifikan dan perlu diantisipasi jika terjadi erupsi.  Potensi ancaman bahaya gunung dengan ketinggian 3432 dibawah permukaan laut (dpl) itu  adalah terjadinya erupsi magmatic. Kondisi itu bisa  menghasilkan lontaran material pijar yang melanda  daerah sekitar puncak dalam radius 2 km. Atau bahkan erupsi freatik dan hujan abu di sekitar kawah tanpa ada gejala vulkanik yang jelas.

 Gunung yang merupakan gunung tertinggi di Jateng tersebut masuk dalam lima wilayah Kabupaten. Masing-masing Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal.

Naiknya status gunung tersebut membuat jalur pendakian ditutup.  Kendati demikian masyarakat diminta tidak panik. Di Kabupaten Purbalingga terdapat 10 desa di lereng gunung tersebut. Masing-masing adalah Desa Serang dan Desa Kutabawa di Kecamatan Karangreja, Desa Sangkanayu, Pengalusan, Binangun di Kecamatan Mrebet, Desa Bumisari Kecamatan Bojongsari serta Desa Karangjengkol, Candinata, Cendana dan Candiwulan Kecamatan Mrebet.

Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi (Tiwi) meminta kepada warga di lereng gunung itu tak perlu panik. Pihaknya juga sudah melakukan antisipasi dengan membangun posko pemantauan di 10 desa yang ada di lereng gunung tersebut.

Hal serupa disampaikan oleh Bupati Pemalang Junaedi. Dia  menegaskan pihaknya akan segera memerintahkan dinas terkait untuk menangani jalur evakuasi Gunung Slamet yang belum dalam kondisi baik.

Kita memberikan apresiasi kepada pimpinan daerah yang ada di wilayah Gunung Slamet yang telah melakukan antisipasi dini.  Kita sadar bahwa Indonesia merupakan negara yang unik,karena  ditinggali sekitar 250 warga dengan begitu banyak gunung api yang aktif.  Diperkirakan terdapat 129 gunung api yang aktif.

Di Pulau Jawa terdapat  120 juta jiwa yang hidup dalam bayangan 30 lebih gunung berapi. Ini yang harus disadari.  Kendati tinggal di lereng gunung berapi, warga percaya bahwa gunung api tidak akan merugikan mereka. Karena  letusan bukan ancaman, namun merupakan pertumbuhan biasa.

Dalam ilmu ekologi,  letusan gunung berapi merupakan bagian dari keseimbangan alam.   Setelah gunung api meletus akan muncul kondisi yang dikenal dengan istilah “steady state” atau keseimbangan baru. Karena dengan meletusnya gunung berapi akan timbul keseimbangan baru, diantaranya tanah menjadi lebih subur. Di teori “steady state” tersebut disebutkan bahwa untuk mencapai keseimbangan baru perlu ada goncangan.

Yang terpenting saat ini bagi pemerintah dan pihak terkait lainnya adalah bagaimana mewujudkan masyarakat yang tanggap bencana. Termasuk bencana meletusnya gunung berapi. Dengan demikian masyarakat menjadi siap dengan kondisi yang terjadi.

Sejumlah desa di wilayah rawan bencana alam, termasuk bencana meletusnya gunung berapi sudah diberi pelatihan dan dijadikan desa tanggap bencana. Yang perlu dilakukan saat ini adalah terus memberikan pelatihan dan pembinaan kepada warga agar mereka selalu tanggap dan siaga bencana. Sehingga saat gunung berapi statusnya menjadi naik, mereka tidak panik namun telah menyiapkan langkah antisipasi dini. Sehingga efek negatifnya bisa diminimalisir.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt