Mari Dukung Kebijakan yang Antiplastik

  • Opini Langit Bara Lazuardi
57

KESADARAN UNTUK mencintai dan menyelamatkan lingkungan kian menular di kalangan pemerintahan.  Di kalangan kampus misalnya,  telah berlaku aturan untuk tidak menggunakan air minuman plastik sekali pakai dan atau kantong plastik. Larangan itu berlaku mulai Selasa (25/6) dengan Instruksi Menristekdikti Nomor 1/M/INS/2019.  Dengan instruksi itu,  diharapkan sampah plastik dapat berkurang, sekaligus menjadikan kampus sebagai aktor untuk mengubah prilaku yang lebih mencintai lingkungan.

Di Semarang, Wali Kota Hendrar Prihadi mengeluarkan larangan penggunaan plastik dalam aktivitas perdagangan. Aturan tersebut tertuang pada Peraturan Walikota (Perwal) Semarang Nomor 27 Tahun 2019 tentang Pengendalian Sampah Plastik yang sudah dikeluarkan sejak bulan Juni 2019 lalu. Dalam Perwal itu disebutkan bentuk plastik yang akan dilakukan pengendalian yaitu kantong plastik, sedotan, pipet plastik dan styrofoam. Sedangkan pelaku usaha yang dimaksud adalah hotel, toko modern, restoran dan penjual makanan. Pengecualian dilakukan bagi yang belum bisa menemukan alternatif lain selain plastik.

Hendi bahkan menjadikan aturan itu lengkap dengan empat sanksi, mulai dari teguran tertulis, paksaan pemerintah, pembekuan izin usaha hingga pencabutan izin usaha. 

Sebelumnya, Bogor, Balikpapan, Jambi, dan Banjarmasin juga sudah melakukan pembatasan penggunaan kantong plastik di mal, super dan minimarket.  Bahkan, di mini/supermarket wilayah Semarang pun pernah melakukan kebijakan sejenis, meski tidak efektif, karena kemudian digunakan lagi, sepanjang konsumen membayar biaya kantong plastik itu.

Kesadaran untuk meminimkan penggunaan kantong plastik itu tampaknya mulai menjadi virus di masyarakat. Di perayaan Idul Adha kemarin, terjadi wabah penggunaan wadah di luar plastik, terutama kantong kresek hitam. Di Semarang banyak yang mulai memakai besek dan wadah lainnya, seperti daun pisang atau daun jati.  Pemerintah bahkan mengampanyekan gerakan sejua tumbler untuk mengurangi penggunaan botol kemasan plastik.

Sampah plastik memang sudah menjadi wabah yang kian tak tertangani.  Ini karena plastik berharga murah, tahan lama, dan  mudah pemproduksiannya. Padahal, struktur kimia dari plastik membuat mereka tahan terhadap banyak proses alami degradasi dan akibatnya mereka lambat juga untuk didegradasi. Inilah yang menyebabkan tingginya tingkat pencemaran plastik di lingkungan. 

Pada 2018, terdapat sekitar 380 juta ton plastik telah diproduksi di seluruh dunia setiap tahun. Dari tahun 1950 hingga tahun 2018, diperkirakan terdapat 6,3 miliar ton plastik telah diproduksi di seluruh dunia, yang  9% telah didaur ulang dan 12% lainnya telah dibakar. Di Inggris saja, lebih dari 5 juta ton plastik telah dikonsumsi setiap tahun, yang diperkirakan hanya seperempatnya yang telah didaur ulang. 

Di Indonesia, dari data KLHK tersebut plastik hasil dari 100 toko atau anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik.  Jumlah itu ternyata setara dengan luasan 65,7 hektare kantong plastik atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola. 

Lebih dari satu juta kantong plastik digunakan setiap menitnya, dan 50 persen dari kantong plastik tersebut dipakai hanya sekali lalu langsung dibuang. Dirjen Pengelolan Sampah, Limbah, dan B3 KLHK  mencatat sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada di tahun 2019.  Akibatnya, Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. 

Bukan hal yang aneh jika beberapa  peneliti menyatakan bahwa pada tahun 2050 kemungkinan ada lebih banyak plastik daripada ikan di lautan berdasarkan pada beratnya. Mengerikan. 
Dengan kenyataan ini, langkah-langkah pemkot/kab  dan institusi pemerintahan lainnya untuk melarang penggunaan kantong plastik adalah langkah yang signifikan dan sangat menentukan nasib bumi ke depan. Syaratnya satu, kebijakan itu konsisten, bersanksi tegas, dan juga solutif, memberi insentif dan ruang-ruang baru untuk proses daur ulang sampah plastik.**

Penulis : lbl
Editor   : awl