Simbok bakul di pasar pun tak lepas dari kopi, sebuah ilustrasi di buku "A Cup of Java" karya Gabriela Teggia (Repro: wied)
PASTI, kita tidak pernah mendengar ungkapan itu di dalam bahasa Indonesia. Tetapi tentu bukan hal yang aneh bila ada orang asing, bule, ketika masuk ke kedai kopi berkata, “May I have a cup of Java?” Dan, pemilik kedai kopi atau restoran tentu sangat paham, bahwa sang tamu tidak sedang memesan tanah Jawa atau bahkan orang Jawa. Pramusaji segera masuk, kemudian kembali membawa secangkir kopi.
Ya, kata java dalam bahasa Inggris memang tidak semata bermakna Jawa secara geografis. Ini adalah kata dari bahasa Indonesia (atau bahkan Jawa) yang diserap ke dalam bahasa Inggris. Java bermakna kopi. A cup of jawa maksudnya secangkir kopi. Mengapa bisa begitu?
Gabriella Tiggea yang pernah mengelola Losari Coffe Plantation (sekarang menjadi Mesastila Resrot and Spa) di Losari, Kecamatan Grabag, Magelang menulis buku berjudul A Cup of Java.
Dalam introduction Gabriella berkisah. Pada tahun 1893, dalam merayakan penemuan Benua Amerika oleh Columbus, World’s Columbian Exhibition mengundang negara-negara di berbagai belahan dunia.diundang ke Chicago untuk keperluan perayaan itu. Dalam acara tersebut ada peluncuran beberapna produk. Dan, salah satu yang paling popular adalah semacam anjungan komunitas yang dibangun di tengah kawasan seluas 553 acre itu yang disebut Java Village.
Di sana dipertunjukkan busana batik, wayang, dan gamelan.” Inside the Java Village, a Java Lunch Room served nothing, but pure Java Coffee, and visitors quickly began referring to this drink as “a cup of Java,” tulis Gabriella.
Di ruang makan tidak tersedia apa pun, selain kopi asli Jawa.Dan, para tamu pun bersegera untuk menikmati minuman kopi itu. Tidak menyebut a cup of coffee tetapi a cup of Java. Bukan secangkir Jawa, tetapi yang dimaksud adalah secangkir kopi.
Jawa dan Kopi
Kopi memang bukan tanaman asli Indonesia. Komoditas penting dunia ini pertama kali dibawa masuk Belanda ke Indonesia sekitar tahun 1696, yakni kopi arabika. Kemudian di Indonesia banyak jenis kopi yang terkenal karena asalnya, misalnya kopi Aceh, kopi Sidikalang, kopi Lampung, Toraja, dan sebagainya. Kemudian cara menyajikannya, ada yang disebut kopi tubruk, kopi klotok, bahkan belakangan terkenal kopi jos. Yang terakhir itu adalah seduhan kopi yang kemudian dimasuki bara arang, sehingga terdengar bunyi “jos”.
Kopi memang tak bisa sepenuhnya dilepaskan dari tradisi lama Jawa. Coba saja lihat, untuk sesaji-sesaji, biasanya tersedia bunga (mawar. kanthil, kenanga), rokok (biasanya kretek), menyan, aneka makanan, dan ada segelas kopi. aji ini kadang diletakkan di salah satu sudut rumah, setelah sebelumnya didoai atau dimantrai. Atau kalau kita lihat dalam pertunjukan wayang kulit (di desa-desa), di dekat dalang tersedia sesaji semacam itu.
Atau kemudian kalau kita menyaksikan pertunjukan kuda lumping (jathilan), ketika ada yang kesurupan (trance), kemudian si pawing meminumkan kopi kepada si pemain itu. (Ah, rupanya makhluk halus suka kopi ya?)
Kemudian tradisi ngopi memang sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi masyarakat Jawa. I kalangan masyarakat Jawa dikenal kebiasaan lek-lekan, tuguran, atau dalam bahasa yang sekarang umum kita dengar adalag “begadang”.
Salah satu yang menjadi cagak lek (secara hurufiah: “patok” yang bisa mengganjal mata menjaga agar tidak mengantuk) adalah minuman kopi, selain juga biasanya rokok dan kudapan lainnya. Di desa-desa, kopi disajikan dalam gelas berukuran sedang (dulu sangat dikenal dengan sebutan “gelas blimbing”). Cara menyeduhnya juga tidak semacam. Ada yang diseduh di tiap-tiap gelas, tetapi ada juga yang diseduh langsung di dalam ceret/teko kemudian dituang di gelas-gelas, dan diedarkan pada tamu yang hadir dalam lek-lekan itu.
Cara pengolahan kopi di Jawa juga menjadi budaya yang khas, tentu saja. Tanaman kopi yang berbuah lebat, kemudian dipanen. Ada yang kemudian dijemur, setelah kering, ditumbuk menggunakan antan (alu) di lumpang. Kemudian kulit yang sudah kering itu terlepas. Kopi yang sudah terkupas (coffee bean) kembali dijemur hingga kering, kemudian disimpan untuk menurunkan kadar asamnya.
Kopi yang siap diproses lebih lanjut kemudian disangrai (sangan) menggunakan kuali atau wajan terbuat dari tanah. Setelah dirasa cukup, pada saat kopi itu masih panas kemudian ditubuk di lumpang, lalu diayak untuk mendapatkan bubuk kopi yang halus. Setelah itu baru disajikan.
Ada tradisi aneh juga bagi sebagian orang Jawa. Minum kopi tidak dicampur gula, tetapi kopi pahit saja. Namun yang aneh, ada yang dicampur garam, katanya bisa menyembuhkan masuk angin. Aneh kan?
Mungkin bisa juga Anda coba. Kopi yang sudah disangrai dimakan bersama gula merah/gula jawa. Ada sebuah sensasi yang luar biasa. Kalau ada ampyang atau gula kacang atau mungkin enting-enting kacang, nah merasakan kopi sangan dan gula jawa lebih sensasional.
Yang juga unik, karena di Jawa dulu banyak luwak (sejenis hewan pemakan buah). Dan, kpi adalah salah satu yang disukai. Maka, di kebun-kebun kopi sering ditemukan kotoran luwah yang bercampur kopi. Inilah yang disebut kopi luwak dengan harga yang sangat tinggi. Kopi yang dimakan luwak adalah kopi yang benar-benar matang, dan kemudian terfermentasi di dalam perut luwak, baru kemudian diproses.
Budaya Ngopi
Memang “ngopi” tak sekadar minum kopi. Ngopi menjadi budaya, menjadi kebutuhan. Maka, wajar kalau kini banyak bertebaran warung kopi, dengan aneka “merk dagang”. Kedai kopi, kafe kopi, warung kopi dari yang lesehan, terbuka, di emperan, di teras, sampai yang nyata-nyata dalam bentuk coffee shop atau bahkan resto.
Yang ngopi juga bukan hanya orang-orang tua dengan klempas-klempus rokok kretek atau bahkan klembak menyan. Ngopi benar-benar menjadi kebutuhan. Maka wajar saja kalau kemudian BUMN perkebunan kita yang memang menangani tanaman kopi kemudian membuka resto kopi. Kemudian perkebunan kopi juga mengembangkan sayap menjadi agrowisata dengan menyajikan prosesi pengolahan kopi, seperti halnya Mesastila Resort and Spa yang bermula dari Losari Coffee Plantation.
So, may I have a cup of Java? Karena jawa adalah kopi.
Penulis :
Editor :