Polres Demak Amankan 7 Pengedar Upal


Kapolres Demak AKBP Budi Adhy Buono didampingi Kasat Reskrim AKP Agil Widiyas Sampurna dan Kasubbag Humas Iptu Guyub Kartono saat menunjukan barang bukti tindak kriminal dugaan peredaran upal. Attachments area

DEMAK, WAWASANCO- Sebanyak tujuh tersangka pengedar uang palsu (upal) berhasil di bekuk jajaran Satreskrim Polres Demak. Bersamaan itu disita pula barang-barang bukti antara lain puluhan lembar cetakan upal  pecahan Rp 50 ribu yang belum difinishing, delapan lembar upal yang rusak, serta sejumlah perangkat komputer, printer, tinta, kertas duslak, alat press laminating, alas kaca, penggaris dan cutter.

Kapolres Demak AKBP Budi Adhy Buono saat pers rilis menuturkan, hasil penyidikan para tersangka pengeroyokan dan pembunuhan anak beberapa  waktu lalu terungkap pula kasus dugaan produksi dan peredaran upal. "Upal yang diproduksi pecahan Rp 50 ribuan. Selama setahun beraksi, diperkirakan yang telah beredar senilai Rp 500 juta lebih," ujarnya, Rabu (29/12).

Produksi upal dilakukan di sebuah rumah kontrakan di kawasan Mangunjiwan Demak Kota.  Selama beraksi memproduksi upal, keempat tersangka pengeroyokan dan pembunuhan bocah yakni Nasirun (33), Saerofi (30), Khoirul Anwar (24) dan Rifqy Rosadi (24), semuanya warga Bonang Demak bertindak sesuai peran masing-masing. 

Nasirun bertugas pada pengeditan dan pemasaran melalui media sosial. Saerofi alias Doyok bertugas mengeprint atau mencetak, Khoirul Anwar bagian finishing, sedangkan Rifqy mengirim melalui jasa titipan. 

Untuk pengedarannya, mereka dibantu Wono Khoirun (35), warga Kendal yang juga kakak Nasirun. Juga Slamet Timbul (40) dan Sowijoyo (42), dua warga Pasuruan sebagai reseller. "Ada pun tarif penjualannya 1:3 yakni Rp 1 juta mendapatkan upal senilai Rp 3 juta yang siap edar. Atau 1:5 atau Rp 1 juta mendapatkan upal senilai Rp 5 juta namun masih dalam bentuk lembaran belum dipotong," terang Kasat Reskrim AKP Agil Widiyas Sampurna, didampingi Kasubbag Humas Iptu Guyub Kartono.

Bersama para tersangka, Tim Buser menyita pula barang bukti berupa sejumlah perangkat komputer, printer, alat pres laminating, lem, alas kaca, 5 bendel kertas duslak, tinta printer, serta glitter. Di samping hasil cetak uang palsu Rp 50 ribu dua sisi belum difinishing, delapan lembar uang palsu Rp 50 ribu sudah finishing tapi rusak, penggaris, pisau atau cutter. 

Para tersangka terancam hukuman pidana kurungan maksimal 15 tahun, serta denda paling banyak Rp 50 miliar. Sebagaimana Pasal 36 ayat (1,2,3) Jo Pasal 26 ayat (1,2,3) UU Nomor 7 tahun  2011 tentang Mata Uang. 

Penulis : ssj
Editor   : edt