Darurat Sampah Plastik, Pemda Giatkan Bank Sampah

57

Sekda dr H Singgih Setyono bersama para kepala OPD Pemkab Demak, perwakilan masyarakat dan lembaga pemerhati lingkungan saat bersama menyatakan komitmen mengurangi sampah, utamanya penggunaan produk plastik. Foto : sari jati.

DEMAK, WAWASANCO  - Kenyataan bahwa sampah plastik baru terurai setelah 200 tahun sungguh memprihatinkan. Maka tak heran jika kini sampah plastik menjadi masalah dunia. Tak terkecuali di Indonesia, masalah sampah plaatik masih menjadi 'PR' yang belum terselesaikan di sebagian wilayahnya. Sehubungan dampak negatifnya sebagai penyumbang kerusakan lingkungan.

Alih-alih mengurangi penggunaan produk plastik, Indonesia justru turut menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Bahkan perairan (laut) pun kini telah tercemari sampah plastik, hingga partikel-partikel kecil sampah plastik yang tak terurai termakan ikan.

Pada Deklarasi dan Komitmen Bersama Strategi Pengurangan Sampah Plastik Melalui Mini Model Bank Sampah di Kabupaten Demak, Kepala Dinas Lingkungan Hidup H Agus Musyafak menyampaikan, jika diestimasi setiap orang menghasilkan timbunan sampah  0.6 kg/hari, maka jika  di Kabupaten Demak ada sekitar 1,2 juta jiwa penduduk, kurang lebih akan terkumpul sampah 684.405 kilogram setiap harinya. Parahnya lagi, sebanyak 79.504 m3 atau 58,25 persennya merupakan  sampah plastik.

Lebih dati itu, saat ini baru 11,75 persen penduduk di Demak tertangani sampahnya. Sedangkan hampir 90 persen sisanya tak terjangkau. Karena kondisi darurat sampah tersebut, maka tidak bisa tidak, masyarakat harus diajak mengelola sampah utamanya sampah plastik. Mulai dari  hal terkecil di sekitarnya. Seperti rumah, lingkungan tempat tinggal, sekolah, tempat kerja, baru kemudian tempat umum.

Tentunya dengan cara memilah sesuai jenis. Di samping menumbuhkan 3R atau mengurangi, menggunakan lagi dan mendaur ulang.  Pada saat sama, Sekda dr H Singgih Setyono menuturkan, sampah bisa diatasi asalkan kita mau. Antara lain dengan meninggalkan paradigma lama yang hanya mengumpulkan, mengangkut dan membuang sehingga menyebabkan TPA cepat penuh.

"Ganti dengan kebiasan baru yakni memilah terlebih dulu sebelum dikumpulkan, tntunya memilah dengan metode 3R. Baru kemudian diangkut dan dibuang sesuai UU Nomor 18/2009 tentang memilah, mengumpulkan, mengangkut dan membuang sampah," kata sekda.

Langkah berikutnya, adalah membentuk Mini Bank Sampah di setiap OPD dan lingkungan masyarakat. Sebagai salah satu solusi di samping membuat TPA yang diperbesar. Lengkap dengan teknologi agar sampah tidak cepat menumpuk.

"Selain mengurangi timbunan sampah di TPA, sampah yang dipilah dan masuk mini bank sampah dapat dikelola dan diproses menjadi produk bermanfaat," ujarnya.

Di sisi lain, seluruh stakeholder pengelolaan sampah, mulai dari pemerintah, swasta dan perorangan harus saling sinergi dan komitmen mengurangi sampah.


 

Penulis : ssj
Editor   : wied