Bupati Dukung Penerbangan Balon yang Aman


Bupati Wonosobo Eko Purnomo SE MM bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Drs One Andang Wardoyo MSi saat menyaksikan Java Balloon Attraction (JBA) di Lapangan Desa Pagerejo Kecamatan Kertek. Foto : Muharno Zarka

WONOSOBO, WAWASANCO- Bupati Wonosobo Eko Purnomo SE MM menyatakan mendukung tradisi lokal penerbangan balon udara tradisional yang aman. Pasalnya, penerbangan balon udara di hari raya Idul Fitri merupakan budaya lokal yang sudah turun-temurun di Wonosobo.

Hanya saja penerbangan balon udara tradisional tersebut tidak boleh sampai mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan pesawat. Agar tidak sampai mengganggu penerbangan pesawat balon udara tradisional diterbangkan dengan cara ditambat dengan tali.

"Balon yang diterbangkan dengan cara ditambat, membuat balon udara tradisional tidak bisa terbang secara bebas atau liar. Balon udara hanya bisa terbang di angkasa dengan ketinggian maksimal 150 meter dari tanah", katanya.

Orang nomer satu di Wonosobo tersebut mengatakan hal itu, di sela-sela membuka acara "Java Balloon Attraction (BJA)" yang digelar Airnav Indonesia bekerjasama dengan Pemkab, Kodim 0707 dan Polres setempat di lapangan Desa Pagerejo Kertek Wonosobo, Sabtu (15/6), pagi.

Menurut Eko, penyelenggaraan BJA di Desa Pagerejo layak diapresiasi. Sebab, selain masyarakat bisa tetap membudayakan tradisi penerbangan balon udara tradisional, penerbangan balon dengan cara ditambat juga tidak melanggar peraturan yang ada.

"Ini merupakan atraksi budaya sekaligus wisata. Selain nguri-uri budaya yang ada, warga dan wisatawan yang datang dapat menikmati atraksi penerbangan balon udara tradisional yang ditambat, sehingga menjadi hiburan tersendiri", anggapnya.

Lintasan Padat

Sementara itu, Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi AirNav Indonesia Yurlis Hasibuan mengatakan selama tahun 2018 ada sekitar 118 laporan dari pilot terkait adanya balon udara yang diterbangkan secara bebas. Tahun 2019 ini menurun menjadi 57 laporan.

"Penurunan jumlah laporan dari pilot menunjukan bila sosialisasi penerbangan balon yang aman sudah cukup berhasil. Mudah-mudahan di waktu-waktu yang akan datang tidak ada lagi laporan dari pilot perihal adanya balon udara yang terbang bebas", harapnya.

Menurutnya, selama ini ada tiga titik daerah yang banyak sekali ditemukan laporan penerbangan balon udara tradisional secara bebas. Tiga titik tersebut berada di atas langit Ponorogo (Jawa Timur) dan Wonosobo serta Pekalongan (Jawa Tengah).

"Wonosobo termasuk daerah yang boleh dibilang laporannya paling banyak di antara dua daerah lainnya. Karena daerah pegunungan ini merupakan lintasan padat pesawat terbang dari Yogyakarta menuju Surabaya dan Jakarta", sebutnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dipartabud) Drs One Andang Wardoyo MSi menyebut dipilihnya Desa Pagerejo Kecamatan Kertek sebagai lokasi JBA, karena desa wisata tersebut termasuk zona merah kemisikinan dan degradasi lingkungan.

"Dengan digenjotnya event wisata berupa JBA diharapkan akan mengangkat citra Desa Pagerejo sebagai desa wisata di bawah lereng Gunung Sindoro ini. Desa ini punya view yang bagus dan bisa dijadikan sebagai lokasi camping ground", tandasnya.

Dalam JBA, Keluar sebagai juara 1-3 JBA, yakni group balon Pagerotan Pagerejo (Kertek), Gondang Candimulyo (Kertek) dan Kembaran (Kalikajar). Adapun balon terunik diraih group balon dari Paguan Wonolelo (Wonosobo) dan Banjaran Candiasan (Kertek). 

Sedang balon terfavorit direbut group balon dari Selomerto. Penilaian lomba balon dalam JBA meliputi motiv atau ornamen balon, kreatifitas, bentuk, komposisi warna, kostum tim dan, tehnik pengasapan dan ketahanan terbang balon.

Penulis :
Editor   : jks