Oposisi Tanpa Kebencian

  • Opini Langit Bara-Lazuardi
78

Jokowi dan Prabowo telah bertemu. Rekonsiliasi, sekecil apapun itu, telah terjadi. Ini hal yang positif di tengah  ketidakpastian pascakeputusan MK yang memenangkan Jokowi-Amin. Dan, di tengah banyak pihak yang menyarankan agar  Prabowo menolak rekonsiliasi, pertemuan itu adalah langkah maju untuk kepentingan negara.

Tapi tentu saja, jangan sampai rekonsiliasi itu terjadi setelah ada kesepakatan bagi-bagi kursi. Akan jadi hal yang tak  produktif jika kebersamaan itu dalam konteks ''pengiyaan'' apapun karena sandera kepentingan. Kebersamaan harus  dimaknai sebagai langkah bersama untuk mewujudkan visi Indonesia. Dan kebersamaan itu tidak harus ditunjukkan dengan  bersama di satu jalan.

Harus ada kesadaran bahwa rekonsiliasi adalah kesepahaman untuk keindonesiaan. Dan kesepahaman itu bukan  keseiyasekataan, melainkan juga merayakan keberbedaan pandangan. Itulah sebabnya, rekonsiliasi jangan sampai  dimaknai sebagai penghilangan oposisi.

Oposisi itu mulia. Itulah yang dikatakan Jokowi dalam Pidato Kemenangan di SICC, Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/7). Tapi,  dia juga mensyaratkan kemuliaan itu, harus dibangun dengan nalar tanpa kebencian. Jokowi mempersilakan siapapun  menjadi oposisi yang tidak menciptakan dendam, yang tidak merangsang dan mendorong kebencian. Oposisi yang tidak  ditenagai hinaan, cacian, dan digembirai dengan maki-makian.

Jokowi juga meminta, jikapun beroposisi, harus dengan pagar norma ketimuran, agama, dan budaya. Pancasila harus  dijadikan rumah bersama. Dengan kata lain, Jokowi memastikan, oposisi haruslah bagian dari menjaga persaudaraan,  kesatuan, dan keindonesiaan.

Namun, nalar oposisi di Indonesia beloum terbangun dengan benar. Kita acap menyaksikan pertunjukan oposisi setengah  hati. Tak heran jika ada adagium, beroposisi tapi mendapat kursi. Atau, duduk di pemerintahan dengan nalar meragukan  keputusan-keputusan negara. Wajar jika akhirnya muncul semacam kesepahaman bahwa negara ini tak memiliki kultur  oposisi. Di hari-hari ini, keyakinan itu bahkan makin menguat setelah PKS meyakini akan sendirian berdiri sebagai oposisi.

Oposisi itu mulia. Dan itu benar. PDIP telah membuktikan hal itu. Meski masih dalam nalar setengah hati, keoposisian PDIP  telah melahirkan kontrol yang cukup kuat atas penyelenggaraan negara. Karena lamanya memosisikan dirinya sebagai  oposisi, bahkan banyak yang melempar guyonan, ketika menjadi pemenang pun, mengelola negara, PDIP masih berlaku  seperti oposan.

Semoga dengan pertemuan Jokowi dan Prabowo, terjadi kesepahaman bahwa mereka akan tetap bersama sebagai  ''lawan''. Jokowi mengelola negara ini dan Prabowo mengatasi. Juga kesepahaman sebagai teman, yang tanpa rikuh  mengkritik atas dasar persaudaraan, bukan kebencian. Dengan rasa sayang dan bukan hina-hinaan. Semoga.*

Penulis : lbl
Editor   : awl