Membaca  Kabinet Milenial Jokowi

  • Opini Langit Bara-Lazuardi
315

Banyak nama telah beredar. Banyak spekulasi telah dibuat. Tapi, Jokowi masih terus membuat misteri. Tak ada kepastian  yang dia ucapkan. Semua berdasar pada apa pun mungkin. Dan inilah yang membuat kian banyak yang tertarik untuk  menebak seperti apa Kabinet Kerja nanti.

Isu yang paling mengedepan adalah kepastian hadirnya orang muda dalam kabinet itu. Dan orang muda itu, kata Jokowi,  tipe milenial, yang berani mengambil resiko. Atau, seperti kata Ngabalin, hadirnya orang kedua adalah tanda bahwa Jokowi  tengah melakukan strategi untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru bagi Indonesia.

Bersepakat dengan Ngabalin, regenerasi kepemimpinan memang amat perlu di negeri ini. Kita punya banyak sekali anak  muda potensial, yang berprestasi, yang sayangnya, belum diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Politik  kita, harus diakui, dikuasai oleh orang-orang tua. Bahkan, sebenarnya, sejak reformasi digulirkan, wajah politik kita  sebenarnya nyaris tak berubah. Sampai saat ini, klaim reformasi itu justru kembali dinikmati dan menjadi pintu akses bagi  politikus yang besar di masa Orde baru.

Politik memang butuh orang-orang muda. Bukan saja ini untuk memberi peluang lahirnya generasi baru, tapi juga untuk  membuat wajah politik kita berubah, dari yang sifatnya transaksional menjadi fungsional. Politik yang mengedepankan  fungsi, bukan transaksi kepentingan. Di titik inilah orang muda dapat memberi wajah, ketika mengedepankan fungsi, kerja,  hasil, daripada sekadar transaksi kepentingan.

Tapi tentu, keinginan menghadirkan orang muda ini bukan hal yang mudah. Banyak pihak yang merasa bahwa terlalu cepat  memberi kursi kabinet kepada anak muda. Dikhawatirkan iklim politik yang sudah mapan akan bergerak ke titik balik karena  perbedaan kultur, sikap, dan cara pandang. Tapi, bukankah politik pada dasarnya adalah mengelola ''perbedaan''?

Juga, tidak benar lagi untuk membedakan antara orang muda dan tua. Usia seharusnya bukanlah patokan. Kita telah lama  terbius dengan prasangka bahwa kebijakan adalah milik orang tua, yang sudah makan asam garam. Anak muda akan  tersesat, karena belum piawai membaca peta. Namun, untuk iklim politik kita, harus dihadirkan wacana baru bahwa jika  kebijakan adalah milik orang tua, maka kebajikan lahir dari anak-anak muda.

Dengan demikian, usia bukan lagi kendala. Tua, milenial, hanya soal sebutan. Pada akhirnya, kinerja, kecakapan,  keberanian, dan iktikat baik serta nalar politik yang bersih akan lebih banyak bicara. Susi Pujiastuti adalah contoh bagaimana  bisa berbuat banyak meski awalnya dinilai tidak akan memberi warna.

Kini saatnya kita dukung Jokowi untuk mewujudkan Kabinet Anak Muda, mereka yang bekerja dengan asal fungsional, yang  menjadikan idealisme sebagai mahar, dan berorientasi hasil. Mempercayai orang muda memang mengambil risiko, tapi  nilainya akan sebanding dengan hasil yang kita dapatkan. Anak muda adalah investasi politik terbaik bangsa ini.**

Penulis : -
Editor   : lbl