Minions dan Tradisi Emas Olimpiade


Pasangan ganda putra Kevin Sanjaya/Markus Gideon mampu menjadi kampiun di  turnamen Indonesia Open 2019. Di babak final yang digelar di Istora Senayan, pasangan berjuluk “minions”  mampu menjinakkan seniornya pasangan M Akhsan/Hendra setiawan dengan dua set.

Kemenangan itu juga menjadi penyelamat Indonesia sebagai tuan rumah turnamen badminton super series tersebut.  Pasalnya itu menjadi satu-satunya gelar yang berhasil diraih.  Selain itu prestasi minions membawa angin segar terutama menjelang perhelatan multievent Olimpiade Tokyo tahun depan.

Tinggal 24 bulan lagi Olimpiade  akan digelar. Indonesia mengandalkan bulutangkis sebagai cabang olahraga untuk mempertahankan tradisi medali emas. Sejak bulutangkis dipertandingkan di Olimpiade Barcelona tahun 1992, bulutangkis adalah cabang olahraga yang selalu memberikan torehan prestasi medali emas.

Tahun 1992 tunggal putri  Susy Susanti dan tunggal putra Alan Budy Kusuma berhasil membawa pulang medali emas.  Tahun 1996 di Olimpiade  Atlanta pasangan ganda putra Ricky Subagja/Ricard Maniaxi mempersembahkan emas.  Empat tahun berikutnya di Olimpiade Athena giliran pasangan ganda putra Chandra Wijaya/Tony Gunawan yang mempertahankan tradisi emas.

Berikutnya di Olimpiade Athena 2004   tunggal putra Taufik Hidayat meraih kampium. Selanjutnya di Olimpiade 2008 di Beijing pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan menjadi peraih emas untuk Indonesia. Tradisi emas sempat terhenti ketika Olimpiade digelar tahun 2012 di London. Namun tradisi itu kembali dilanjutkan pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Lyliana Natsir di Olimpiade 2016 di Rio Jenario.

Di tengah belum stabilnya prestasi pebulutangkis Indonesia di nomor lain, prestasi yang diraih Minions menjadi asa untuk mempertahankan tradisi emas Olimpiade. Apalagi pasangan ini menapaki peringkat puncak pasangan ganda putra dunia sejak Oktober tahun 2017.

Namun awal tahun ini prestasi minions sempat turun. Mereka kalah di babak pertama turnamen bergengsi All England.  Kekalahan tersebut sempat membuat pemerhati bulutangkis bertanya apakah pola permainan pasangan itu sudah diketahui lawan-lawannya.

Sebenarnya pelatih ganda putra Hery IP memiliki dua pasangan lain yang siap memback up Minions untuk mencapai target emas Olimpiade. Masing-masing pasangan Hendra/Akhsan dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Namun Hendra/Akhsan adalah pasangan yang dari segi usia sudah berumur. Kendati prestasi mereka moncer dengan menjuarai All England tahun 2019, namun mematok emas Olimpiade bagi pasangan itu belum membuat PBSI  tenang.

Fajar/Rian juga belum stabil permainannya. Kadang mereka bisa tampil apik dalam sebuah pertandingan. Namun kadang mereka bisa tampil di bawah form. Oleh karena itu kebangkitan minions di pertengahan tahun 2019 dengan menjadi juara di Indonesia Open membuat semangat untuk mempertahankan tradisi emas Olimpiade kembali menggelora.

Minions diharapkan bisa terus mempertahankan konsistensi permainan, fokus dan  bisa menjaga ritme permainan.  Jika top form permainan mereka bisa dijaga. Bukan hal yang mustahil emas Olimpiade akan mereka dapatkan. Karena semua pasangan ganda putra Negara lain sebut saja pasangan Liu Junhui/Liu Yuchen (Cina), Takeshi  Kamura/Keigo Sonoda  dan Hiroyuki Endo/ Yuta Watanabe  (Jepang) sudah pernah ditaklukkan. Kepada Minions kita berharap, Indonesia Raya tetap berkumandang di Olimpiade.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt