Akrobat Politik Paska Pemilu


Politik Indonesia di era reformasi tak pernah sepi. Panggung depan pertunjukan politik selalu menampilkan episode baru. Kadang kita semua harus terkejut dan mengernyitkan dahi ketika melihat babak demi babak pertunjukan tersebut.

Akrobat di  panggung politik Paska Pemilu kini terjadi lagi. Bermula dari pertemuan antara Jokowi dan Prabowo dilanjutkan dengan pertemuan pimpinan parpol koalisi Jokowi tanpa PDIP hingga pertemuan antara Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto.

Di satu sisi pertemuan antara Jokowi dengan Prabowo dan Mega dengan Prabowo  dianggap sebagai hal positif. Pihak-pihak yang setujua dengan agenda ini menyatakan bahwa ini menjadi bagian upaya menghilangkan polarisasi yang terlihat sangat tajam dan mengerikan terutama saat menjelang dan saat Pilpres.

Namun bagi pihak yang tidak sepakat menganggap pertemuan tersebut merupakan bagian dari sebuah kompromi politik terutama terkait pembagian kekuasaan. Isu negative tersebut juga yang konon membuat parpol koalisi Jokowi non PDIP meradang. Mereka menganggap bahwa tak perlu ada kompromi politik dengan Gerindra dan parpol koalisinya. Pasalnya Prabowo, Gerindra dan parpol pengusungnya adalah lawan di Pilpres. Karena mereka kalah, sudah sewajarnya mereka diluar pemerintahan.

Politik memang identik dengan siapa mendapatkan apa. Tidak ada makan siang yang gratis dalam politik. Sehingga wajar jika banyak yang beranggapan bahwa acrobat politik yang dilakukan oleh politisi pasca Pemilu merupakan bagian dari upaya mendapatkan kekuasaan. Yang kalah mendekat ke yang menang untuk mendapatkan jabatan.

Tentunya masyarakat sebenarnya tidak mempedulikan berbagai akrobat politik tersebut. Yang mereka butuhkan setelah Pilpres dan Pileg selesai adalah bagaimana nantinya para pemimpin yang terpilih bisa merealisasikan janji-janji politik saat masa kampanye. Janji-janji tersebut jangan menguap tanpa bekas.

Banyak pekerjaan rumah memang yang harus diselesaikan oleh Presiden Jokowi di masa kepemimpinannya yang kedua. Mulai masalah pembangunan ekonomi, peningkatan sumber daya manusia serta bagaimana menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.   Masyarakat tentu menunggu realisasinya.

Oleh karena itu seyogyanya akrobat politik yang dilakukan para elite politik dan pimpinan parpol jangan hanya sebatas terkait kompromi politik dan bagi bagi kekuasaan. Sudah saatnya elit politik memikirkan bersama sama bagaimana membangun Indonesia lebih baik ke depan. Kita tidak ingin politik hanya menjadi panggung pertunjukan tanpa ada ada solusi buat persoalan bangsa.

Kita berharap menjelang pelantikan anggota DPR dan pelantikan Presiden, elit politik dan pimpinan parpol bisa mengintensifkan komunikasi untuk membicarakan solusi mengatasi persoalan bangsa. Membantu presiden dan wapres untuk bekerja untuk rakyatnya. Tidak hanya sebatas berkumpul dan berkomunikasi hanya untuk meraih jabatan dan kekuasaan saja.

    Mari kita beri kesempatan kepada presiden dan wapres untuk bekerja. Partai pendukung juga memberikan dukungan secara obyektif. Yang kalah di Pilpres juga bisa berperan menjadi penyeimbang atau oposisi. Tentu dengan kritik membangun dan obyektif. Yang terpenting persoalan bangsa dan masyarakat bisa dicari solusinya.

 

Penulis : Joko Santoso
Editor   : edt